Kamis, 19 November 2009

Mendidik Anak untuk Mandiri

“To dream anything that you want to dream, that is the beauty of a human mind..To do anything that you want to do, that is the strength of a human will..To trust yourself and test your limit, that is the courage to succeed” (from Breaking the Limits)

Saya memilih untuk berkarier sebagai full time mother demi mengasuh dan mendidik keempat anak saya Netta 9.5 th; Fella 5 th; Faza 4 th dan Ghazi 2.5 th. Menjadikan mereka manusia mandiri adalah salah satu tujuan hidup saya. Selalu saya tekankan pada mereka, “Jadilah manusia bermanfaat yang banyak membantu orang lain, caranya adalah dengan terlebih dulu mampu mengurus diri sendiri.”

Pada dasarnya mendidik anak-anak yang mandiri adalah memberi mereka kesempatan seluas dan sedini mungkin untuk bermimpi, berbuat dan menembus batasan diri mereka. Agar mampu memenuhi semua kebutuhan mereka sendiri tanpa bantuan. Mulai kebutuhan bergerak, meraih, tengkurap, merangkak, duduk, memanjat, berjalan dan berlari – hingga kebutuhan berkomunikasi, makan dan minum, mandi dan berpakaian, bermain dan berangkat ke sekolah – harus dapat segera mereka kuasai dan lakukan sendiri tanpa bantuan. Terakhir mungkin yang terpenting adalah secepatnya mengajari mereka cara berdiskusi, berpikir, memilih dan mengambil keputusan sendiri, agar mereka segera mengenali hal penting yang diperlukan. Kenali kebutuhan mereka sejak bayi dan ajari mereka bagaimana menyampaikan kebutuhan tersebut. Dengan begitu mereka tidak perlu menangis hanya untuk minta sesuatu.

Syarat anak mampu mandiri, orang tua harus beri bimbingan dan latihan sesering mungkin untuk semua aktivitas yang harus dilakukan sendiri mulai usia dini. Misal anak 1 tahun bisa makan sendiri, 2 tahun tidak lagi digendong, 3 tahun berpakaian sendiri, 4 tahun membersihkan diri sendiri, dan seterusnya. Kesempatan bergerak dengan bebas juga mutlak diperlukan. Mereka butuh berlari kencang, melompat dan memanjat. Hal yang sering dilarang orang tua. Alasan dan kekuatiran yang tidak rasional dapat menciutkan keberanian yang mereka butuhkan untuk mandiri. Bekali mereka kepercayaan diri untuk bergerak bebas dan melakukan pemenuhan kebutuhan sendiri.

Hasilnya, Alhamdulillah Netta sudah mampu mengurus semua kebutuhannya sendiri dan mengurus adik-adiknya plus memasak dan mencuci. Fella sudah mampu bersiap sekolah tanpa dibantu mulai mandi sampai selesai berpakaian, Ia juga mampu memandikan dan menyiapkan makan 2 adiknya. Faza mampu berpakaian dan menyiapkan makanan dan susunya sendiri. Ghazi mampu makan sendiri tanpa berantakan dan bersisa. Untuk kemampuan motorik kasar Ghazi yang paling kecil sudah mampu berlari, memanjat tangga bambu dan pagar rumah, keterampilan yang didapat dari kakak-kakaknya. Ghazi juga mau berjalan sendiri lebih 1 km dari rumah ke jalan raya. Repot kalau harus mengejar ketiga balita ini saat diajak keluar.

Semua itu didukung komitmen saya tidak menyerahkan urusan pengasuhan mereka pada orang lain selama 2 tahun masa menyusui. Saya masih memakai jasa pembantu untuk urusan rumah, sudah selesai pulang. Berdasar pengalaman kalau ada pembantu menginap anak-anak jadi suka menyuruh, dan kakak tidak mau perduli adik.

Namanya anak tentu saja tidak bisa diharuskan 100% mandiri, tetapi menyadari sepenuhnya apa yang mampu dilakukan sendiri adalah bekal utama anak-anak kita untuk mandiri dan bertanggung jawab akan kebutuhannya sendiri.

Brain Base Learning

Asli sudah lewat empat hari dari workshop Brain Base Learning saya masih harus mengumpulkan pemahaman untuk dituliskan kembali dalam note. Apakah BBL begitu sulit sehingga berat memahaminya..?? Bohong kalau saya katakan memahami BBL itu mudah, nyatanya untuk workshop kali ini saya harus konsentrasi ekstra. Tapi masalah terbesar sama sekali bukan karena sulit atau rumit. Ini lebih karena BBL begitu kompleks sekaligus luas, sehingga bisa ditilik dari beragam sudut pandang, yang semua bisa dijabarkan menjadi sebuah note. Maka kesulitan terbesarnya adalah menjabarkan dalam bentuk sederhana dan aplikatif .

Tapi biarlah saya coba menuliskannya bukan sebagai teori, note ini menggambarkan kesan yang saya peroleh setelah workshop BBL.

Alhamdulillah, saya ikut workshop BBL setelah terlebih dulu membaca dan memahami beberapa materi yang terkait seperti Multiple Intelegence , Quantum Learning , Quantum Ikhlas , Hypnoparenting dan ESQ . Semua bercerita tentang hebatnya seorang manusia jika mampu mengeksplorasi semua kekuatan yang terdapat dalam dirinya. Saat dia telah berhasil membuka akses langsung akal-hati-jiwa dan mengkoneksikannya dalam jalur pribadi bebas hambatan dengan The Source, Sang Maha Pencipta. Desain luar biasa produk pasti sukses anti gagal dariNya.

Apa hubungannya semua itu dengan BBL..?? Mba Yanti DP, Kepala Sekolah Bintang Bangsaku yang Agustus lalu menyabet predikat KepSek PAUD Teladan Nasional mengungkapkan, semua proses itu, ZMP, Ikhlas, God Spot, Quantum Learning, MI dan seterusnya, terjadi di otak, dan BBL menginklusi semua itu. Bahwa setiap yang memiliki jiwa, dia pasti punya potensi untuk dikembangkan, lepas dari gangguan, fisik, mental, emosi bahkan keterbatasan otak itu sendiri. Maka Sekolah Bintang Bangsaku menghadirkan Kelas Inklusi dengan BBL, untuk anak usia dini 3 – 6 tahun menembus semua keterbatasan yang ada .

Hal yang paling membekas di benak saya, bahkan nyaris membuat saya menitikkan air mata haru adalah slide tentang kegiatan kelas di mana anak yang lebih normal menjadi shadow teacher untuk teman-temanya yang kurang beruntung. Betapa BBL mampu melejitkan potensi tiap anak normal mulai umur 3 tahun hingga mereka dapat menjadi tangan kanan gurunya bertanggung jawab mengawal satu orang ABK dalam sebuah kegiatan outing. Tak heran ada sebuah kelas inklusi di Sekolah Bintang Bangsaku yang memiliki 8 murid ditangani hanya 1 orang guru, padahal ada 4 anak ABK di kelas itu. Bagaimana mungkin..?? Jelas mungkin karena di kelas itu juga ada 4 shadow teacher. Allahu Akbar..!!

So, the biggest question is… seperti apa sih bentuk dan aplikasi Brain Base Learning hingga bisa memberi hasil yang sedahsyat itu. Anak 3 tahun yang biasanya belum mandiri, jadi mampu menjadi seorang shadow teacher untuk seorang ABK. Bayangkan jika kita lewat pendidikan di rumah mampu memberi pendekatan BBL pada anak-anak kita yang rata-rata dalam kondisi normal, bukankah hasilnya akan sangat menjanjikan. Insya Allah satu generasi yang sangat solid dan unggul, kelak juga mampu menciptakan masyarakat inklusi yang membawa better world and brighter future.

Mba Yanti DP, dengan gamblang membuka rahasia BBL lewat gambar berikut…



Dalam gambar ini termuat modalitas belajar yang ada di setiap otak manusia. Betapa otak bekerja sesuai dengan kebutuhan jiwa seorang manusia, di mana semua motivasi untuk maju jadi lebih baik dapat dibangkitkan. Asalkan sentralnya sudah diaktifkan secara spritual dan emosional .

Btw, Mba Yanti DP menambahkan tentang soul/ruh/nur sendiri hanya Allah yang tahu di mana letaknya, kita hanya bisa "berkomunikasi" dengannya. Komunikasi yang otomatis dapat terjadi jika kita benar-benar merasa "berkomunikasi" dengan-Nya yaitu saat kita benar-benar berusaha "membaca” tanda-tanda yang diberikan oleh-Nya ...

Setiap lapisannya adalah ‘gerbang’ untuk memasukkan informasi baik berupa data maupun kegiatan apapun ke dalam otak. Terdapat di dalamnya modalitas belajar dan pendekatan Multiple Intelegence . Lebih dari itu BBL juga memperhatikan karakter tiap individu , juga cara berpikirnya . Keseluruhan kerja otak dapat dilihat dari body movement dan behavior setiap individu.

Dalam Quantum Learning dikatakan semua orang punya kemampuan belajar dengan sangat cepat asalkan teaching style = learning style. Maka seorang guru yang mengajar dengan pendekatan BBL, harus berusaha menangkap informasi cara kerja otak para siswanya dan membuat Teaching Plan yang paling sesuai untuk kelasnya dengan memanfaatkan Reticular Activating System .

Dalam BBL dikatakan gerbang tol masuknya informasi ada di Reticular Activating System, yaitu pusat ketertarikan/perhatian dan motivasi yang menghubungkan modalitas belajar seorang peserta didik dengan ‘soul’nya. Artinya guru tersebut harus membuat teaching plan yang mampu menarik keluar soul setiap siswa melalui kegiatan belajar yang dapat mengaktivasi semua modalitas otaknya.
Sepanjang hidup manusia lebar atau sempitnya masing-masing gerbang sangat berfluktuatif sehingga sebagai guru/orang tua kita harus benar-benar jeli dan berusaha memanfaatkan masing-masing gerbang secara maksimal, bukannya mengkotak-kotakkan kemampuan atau karakteristik individu. Misalnya saat kita meyakini anak/ siswa memiliki modalitas belajar visual atau yang ain maka tugas kita bukan hanya menyesuaikan teaching style dengan modalitas learning anak, tapi juga berusaha meningkatkan kemampuan anak lewat stimulasi modalitas yang lain. Karena sejatinya otak manusia yang begitu ajaib mampu meningkatkan kualitas kerja secara nyata asalkan rangsang yang diterima tepat, sehingga otak teraktivasi optimal.


Pasti akan timbul ungkapan susah banget untuk menerapkan BBL ini… Tentu saja bukan hal yang sederhana, para guru/ortu dituntut untuk mengaktivasi seluruh kemampuan otaknya sendiri guna mampu menciptakan teaching plan yang menggunakan BBL.

Istilah Mba Yanti DP, seorang pendidik harus sudah menyelesaikan lingkaran Brain Basenya sendiri untuk mampu membuka komunikasi dengan Brain Base siswanya. Dalam BBL setiap Guru perlu melandasi modalitas mengajarnya dengan proses pemahaman ke dalam dirinya. Untuk mampu berkomunikasi menggunakan bain base, maka guru/ortu perlu memahami kebutuhan dasar/emosi setiap individu yang berhubungan dengan otaknya.



Ada tujuh lapis kebutuhan dasar/emosi yang terdapat dalam diri setiap manusia terkait dengan kemampuan bekerja otak. Namun untuk mengisi bejana otak siswa setidaknya terpenuhi kebutuhan di lapisan 1 2 dan 3 di sekolah maupun di rumah.

1. Safety : Perasaan aman – timbul dari tercukupinya kebutuhan primer setiap manusia, sandang, pangan, papan dan jauh dari bahaya yang mengancam dirinya.
2. Love and sense of belonging : Rasa Dicintai, memiliki dan dimiliki – seseorang harus merasa disayang , juga merasa menjadi bagian utuh dalam kelompok. Tidak dibedakan atau dibandingkan dengan individu lain.
3. Self Esteem : Harga diri - Self respect/pride : Seseorang yang memiliki rasa respek terhadap dirinya, akan lebih mampu mengembangkan setiap potensinya. Penting untuk menghargai setiap anak/siswa apa adanya, dengan keyakinan setiap manusia diberiNya kelebihan masing-masing dan lewat kelebihan itu setiap orang akan mampu bermanfaat bagi dirinya maupun lingkungan sekitarnya. Setiap guru/ortu harus memberikan stimulasi yang tepat hingga stiap individu terpacu untuk mengeluarkan the best of themselves.

Lapisan selanjutnya mungkin harus dikupas lewat workshop/ seminar lain tentang motivasi dan konsep diri…

Mba Yanti mereview sedikit, bahwa kebutuhan dasar itu menurut teori Maslow walaupun tidak persis harus dilewati/dipenuhi bertahap. Banyak dari kita yang pada saat masa tumbuh kembang merasa kurang/belum terpenuhi kebutuhannya, misal orang tua kita terlalu sibuk sehingga kurang memberi kasih sayang yang dapat menghadirkan rasa aman di diri kita waktu itu, sehingga ada satu bagian jiwa kita yang masih ‘bolong’. Akibatnya saat kita jadi orang tua kita merasa punya ‘hutang’ dan berusaha melunasinya lewat anak-anak kita.

Ada orang tua yang dulu sering dipukul, merasa perlu memukul anaknya, atau sebaliknya orang tua itu jadi merasa perlu membanjiri anaknya dengan ungkapan kasih sayang yang tidak mendidik. Atau ada orang tua yang dulu kekurangan materi sehingga saat punya anak dalam keadaan berkecukupan ia berusaha membanjiri anaknya dengan materi dengan cara yang salah.
Sepanjang hidup ‘hutang’ itu selalu ada dan itu yang membuat kita berbeda satu sama lainnya. Orang yang bijak perlu menyadari keberadaan ‘hutang’ itu dan ikhlas berusaha untuk tidak mengalihkan pelunasan ‘hutang’ ke anak-anak kita atau ke orang lain.



Smart Parents, mari kita coba telaah seperti apa modalitas kerja otak anak-anak kita. Jika melalui BBL, seorang ABK penderita Cereberal Palsy <> jadi mampu berjalan dan mengikuti kegiatan outbond dipandu shadow teacher kecilnya, maka jika kita mau membawa BBL ke rumah, tentu anak-anak kita akan mampu melejitkan potensinya.

BBL bukan barang mewah, tidak juga membutuhkan fasilitas canggih. Akal, hati nurani dan jiwa yang bersih adalah kuncinya. Berusaha membuat learning plan dengan the best process di rumah/sekolah adalah actionnya. Ingat memberi kegiatan yang mengakomodasi learning style mutlak diperlukan. Tanpa melupakan stimulasi untuk modalitas yang lain.

Contoh, saat kita di rumah membacakan buku tentang wajah maka biarkan visual anak menikmati gambar wajah yang kita tunjukkan di buku, beri auditory anak kita suara jernih dan intonasi yang sesuai dengan dialog dan beri kinestetiknya play doh untuk bermain membentuk wajah pada waktu yang bersamaan. Sehingga semua bagian otaknya mendapat stimulasi optimal.

Demikian sebagian kecil informasi yang dapat saya sampaikan dari hasil workshop BBL di Sekolah Bintang Bangsaku. Sebenarnya masih ada info tentang Pemanfaatan Peta Koneksi dan Siklus Otak dalam pembuatan Teaching Plan. Mungkin lain waktu disambung lagi.

Get Smarter Everyday…

Rabu, 18 November 2009

Kisah Bincang-bincang Seorang Istri di Dunia Maya

GRUP BIMBINGAN ISLAM
Assalamualaikum warah matullahi wabarakatuh
Bismillahirrahmaanirrahiim.

Kadang jika kita hanya sekedar menyampaikan untaian nasehat, mungkin sebagian orang belum tersentuh. Namun tatkala dikemukakan sebuah kisah, barulah hati kita mulai tersentuh dan baru bisa menarik pelajaran. Semoga kisah berikut bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.terutama untuk saya juga.

Kisah ini terjadi di Lebanon berdasarkan apa yang saya dengar lewat kajian bersama ustadz di majelis ilmu syar’I … Ustadz menguraikan kisah ini agar bisa menjadi perhatian bagi muslimah lainya agar mereka berhati-hati terhadap chatting ini dan tidak melayani sapaan dari laki-laki yang suka iseng menggoda lewat chatting ini…

Beliau adalah seorang wanita muslimah yang alhamdulillah Allah karuniakan kepadanya seorang suami yang baik akhlak dan budi pekertinya. Di rumah ia pun memilki komputer sebagaimana keluarga muslim lainnya di mana komputer bukan lagi merupakan barang mewah di Lebanon. Sang suami pun mengajari bagaimana menggunakan fasilitas ini yang akhirnya ia pun mahir bermain internet. Yang akhirnya ia pun mahir pula chatting dengan kawan-kawanya sesama muslimah.

Awalnya ia hanya chatting dengan rekannya sesama muslimah, … hingga pada suatu hari ia disapa oleh seorang laki-laki yang mengaku sama-sama tinggal dikota beliau.Terkesan dengan gaya tulisannya yang enak dibaca dan terkesan ramah. Sang muslimah yang telah bersuami ini akhirnya tergoda pada lelaki tersebut.

Bila sang suami sibuk bekerja untuk mengisi kekosongan waktunya, ia akhirnya menghabiskan waktu bersama dengan lelaki itu lewat chatting, … sampai sang suami menegurnya setiba dari kerja mengapa ia tetap sibuk di internet. Sang istri pun membalas bahwa ia merasa bosan karena suaminya selalu sibuk bekerja dan ia merasa kesepian, … ia merahasiakan dengan siapa ia chatting .. khawatir bila suaminya tahu maka ia akan dilarang main internet lagi…. Sungguh ia telah kecanduan berchatting ria dengan lelaki tersebut.

Fitnah pun semakin terjadi di dalam hatinya, .. ia melihat sosok suaminya sungguh jauh berbeda dengan lelaki tersebut, enak diajak berkomunikasi, senang bercanda dan sejuta keindahan lainnya di mana setan telah mengukir begitu indah di dalam lubuk hatinya.

Duhai fitnah asmara semakin membara, … ketika ia chatting lagi sang laki-laki itu pun tambah menggodanya, .. ia pun ingin bertemu empat mata dengannya. Gembiralah hatinya, .. ia pun memenuhi keinginan lelaki tersebut untuk berjumpa. Jadilah mereka berjumpa dalam sebuah restoran, lewat pembiacaran via darat mereka jadi lebih akrab. Dari pertemuan itu akhirnya dilanjutkan dengan pertemuan berikutnya.

Hingga akhirnya si lelaki tersebut telah berhasil menawan hatinya. Sang suami yang menasehati agar ia tidak lama-lama main internet tidak digubrisnya. Akhirnya suami wanita ini menjual komputer tersebut karena kesal nasehatnya tidak di dengar, lalu apa yang terjadi ?? Langkah itu (menjual komputer) membuat marah sang istri yang akhirnya ia pun meminta cerai dari suaminya. Sungguh ia masih teringat percakapan manis dengan laki-laki tersebut yang menyatakan bahwa ia sangatlah mencintai dirinya, dan ia berjanji akan menikahinya apabila ia bercerai dari suaminya.

Sang suami yang sangat mencintai istrinya tersebut tentu saja menolak keputusan cerai itu. Karena terus didesak sang istri akhirnya ia pun dengan berat hati menceraikan istrinya. Sungguh betapa hebatnya fitnah lelaki itu. Singkatnya setelah ia selesai cerai dengan suaminya ia pun menemui lelaki tersebut dan memberitahukan kabar gembira tentang statusnya sekarang yang telah menjadi janda. Lalu apakah si lelaki itu mau menikahinya sebagaimana janjinya???

Ya ukhti muslimah dengarlah penuturan kisah tragis ini, … dengan tegasnya si lelaki itu berkata, “TIDAK!! Aku TIDAK mau MENIKAHIMU! Aku hanya mengujimu sejauh mana engkau mencintai suamimu,ternyata engkau hanyalah seorang wanita yang tidak SETIA kepada suami. Dan, aku takut bila aku menikahimu nantinya engkau tidak akan setia kepadaku! Bukan ,..bukan..wanita sepertimu yang aku cari, aku mendambakan seorang istri yang setia dan taat kepada suaminya..!”

Lalu ia pun berdiri meninggalkan wanita ini, .. sang wanita dengan isak tangis yang tidak tertahan inipun akhirnya menemui ustadz tadi dan menceritakan Kisahnya…. Ia pun merasa malu untuk meminta rujuk kembali dengan suaminya yang dulu … mengingat betapa buruknya dia melayani suaminya dan telah menjadi istri yang tidak setia.

Jika seseorang betul-betul merenungkan kisah di atas, tentu saja dia akan menggali beberapa pelajaran berharga. Itulah di antara bahaya chatting dengan lawan jenis yang tidak mengenal adab dalam bergaul. Lihatlah akibat chatting dengan lawan jenis, di sana bisa terjadi perceraian antara kedua pasangan tersebut disebabkan si istri memiliki hubungan dengan pria kenalannya di dunia maya.
Di pelajaran lainnya adalah hendaknya selalu ada pengawasan dari kepala keluarga terhadap anggota keluarganya. Kepala keluarga seharusnya dapat memberikan batasan terhadap pergaulan anggota keluarganya termasuk istrinya, apalagi dalam masalah penggunaan internet. Inilah pelajaran yang mesti diperhatikan oleh seorang suami sebagai kepala keluarga.

Adapun untuk anggota keluarga yaitu istri dan anak, hendaklah mereka selalu merasa mendapatkan pengawasan dari Allah subahanahu wa ta’ala. Hendaklah mereka meyakini bahwa Allah Ta’ala mengetahui segala yang nampak maupun yang tersembunyi. Sehingga Allah mengetahui segala apa yang mereka lakukan. Karena Allah-lah Maha Mengetahui dan Maha Melihat dengan sifat kesempurnaan. Tentu saja sikap selalu merasa penjagaan dari Allah ini bisa muncul jika seseorang telah dibekali dengan aqidah dan tauhid yang benar. Itulah pentingnya pendidikan aqidah pada keluarga.
Selain itu pula, istri mesti diluruskan tatkala dia berada dalam kekeliruan. Istri mesti diluruskan dengan lemah lembut dan harus berhati-hati dalam menasehatinya. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا ، فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَىْءٍ فِى الضِّلَعِ أَعْلاَهُ ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

"Bersikaplah yang baik terhadap wanita karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk. Bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk tersebut adalah bagian atasnya. Jika engkau memaksa untuk meluruskan tulang rusuk tadi, maka dia akan patah. Namun, jika kamu membiarkan wanita, ia akan selalu bengkok, maka bersikaplah yang baik terhadap wanita." (HR. Bukhari no. 5184)

Juga perlu diketahui bahwa kerusakan yang terjadi akibat chatting di atas bukanlah bisa terjadi hanya pada wanita. Kerusakan semacam itu pun sebenarnya dapat terjadi pada laki-laki. Oleh karena itu, perlu sekali diberitahukan kepada pembaca sekalian beberapa adab-adab yang mesti diperhatikan ketika bergaul dengan lawan jenis. Karena tidak memperhatikan beberapa adab berikut inilah terjadi keretakan rumah tangga atau mungkin bagi yang belum menikah pun bisa terjadi kerusakan dengan terjerumus dalam perantara-perantara menuju zina atau bahkan bisa terjerumus dalam zina. Na’udzu billahi min dzalik.

Beberapa Adab yang Mesti Diperhatikan dalam Pergaulan dengan Lawan Jenis (Yang Bukan Mahrom)

Pertama, menjauhi segala sarana menuju zina


Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’ [17] : 32)

Kedua, selalu menutup aurat

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab [33] : 59)

Ketiga, saling menundukkan pandangan

Allah memerintahkan kaum muslimin untuk menundukkan pandangan ketika melihat lawan jenis. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ

“Katakanlah kepada laki – laki yang beriman :”Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An Nuur [24] : 30 )

Dalam lanjutan ayat ini, Allah juga berfirman,

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

“Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman : "Hendaklah mereka menundukkan pandangannya, dan kemaluannya” (QS. An Nuur [24] : 31)

Keempat, tidak berdua-duaan

Dari Ibnu Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ

“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali jika bersama mahromnya.” (HR. Bukhari, no. 5233)

Kelima, menghindari bersentuhan dengan lawan jenis

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925)

Keenam, tidak melembutkan suara di hadapan lawan jenis

Allah Ta’ala berfirman,

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلا مَعْرُوفًا

“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu melembutkan pembicaraan sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit (syahwat) dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al Ahzab: 32). Perintah ini berlaku bukan hanya untuk istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun juga berlaku untuk wanita muslimah lainnya.

Lalu bagaimana dengan adab chatting dengan lawan jenis? Hal ini dapat pula kita samakan dengan telepon, SMS, pertemanan di friendster dan pertemanan di facebook.

Jawabnya adalah sama atau hampir sama dengan adab-adab di atas.

Pertama, jauhilah segala sarana menuju zina melalui pandangan, sentuhan dan berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahrom.

Kedua, tutuplah aurat di hadapan bukan mahrom.

Sehingga seorang muslimah tidak menampakkan perhiasan yang sebenarnya hanya boleh ditampakkan di hadapan suami. Contoh yang tidak beradab seperti ini adalah berbusana tanpa jilbab atau bahkan dengan busana yang hakekatnya telanjang. Inilah yang banyak kita saksikan di beberapa foto profil di FB atau friendster. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada mereka.

Ketiga, tundukkanlah pandangan.

Bagaimana mungkin bisa saling menundukkan pandangan jika masing-masing orang memajang foto di hadapan lawan jenisnya? Wanita memamerkan fotonya di hadapan pria. Mungkinkah di sini bisa saling menundukkan pandangan? Oleh karena itu, alangkah baiknya jika foto profil kita bukanlah foto kita, namun dengan foto yang lain yang bukan gambar makhluk bernyawa. Tujuannya adalah agar foto wanita tidak membuat fitnah (godaan) bagi laki-laki, begitu pula sebaliknya. Di antara bentuk menundukkan pandangan adalah janganlah menggunakan webcamp selain dengan sesama jenis saja ketika ingin melakukan obrolan di dunia maya.

Keempat, hati-hatilah dengan berdua-duaan bersama lawan jenis yang bukan mahrom.

Jika seorang pria dan wanita melakukan pembicaraan via chatting, telepon atau sms –tanpa ada hajat (keperluan)-, itu sebenarnya adalah semi kholwat (semi berdua-duaan). Apalagi jika di dalamnya disertai dengan kata-kata mesra dan penuh godaan sehingga membangkitkan nafsu birahi. Dan jika memang ada pembicaraan yang dirasa perlu antara pria dan wanita yang bukan mahrom, maka itu hanya seperlunya saja dan sesuai kebutuhan. Jika tidak ada kebutuhan lagi, maka pembicaraan tersebut seharusnya dijauhi agar tidak terjadi sesuatu yang bisa menjurus pada yang haram.

Kelima, janganlah melembutkan atau mendayu-dayukan suara atau kata-kata di hadapan lawan jenis.

Penyimpangan dalam adab terakhir ini, kalau diterapkan dalam obrolan chatting adalah dengan kata-kata yang lembut atau mendayu-dayu dari wanita yang menimbulkan godaan pada pria. Contoh menggunakan kata-kata yang sebenarnya layak untuk suami istri seperti “sayang”, dsb.

Jika setiap muslim mengindahkan adab-adab di atas, maka tentu saja dia tidak akan terjerumus dalam perbuatan dosa dan tidak akan mengalami hal yang serupa dengan kisah di atas dengan izin Allah.

Kami ingatkan pula bahwa tulisan ini bukanlah hanya kami tujukan kepada kaum hawa saja, namun kami juga tujukan pada para pria agar mereka juga memperhatikan adab-adab di atas. Jadi janganlah tulisan ini dijadikan sebagai sarana untuk memojokkan wanita atau para istri, namun hendaklah dijadikan nasehat untuk bersama.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan sifat ketakwaan, memberi kita petunjuk dan kecukupan. Semoga Allah melindungi dan menjaga keluarga kita dari hal-hal yang haram dan mendatangkan murka Allah. Semoga risalah ini dapat bermanfaat bagi kaum muslimin. Wa shallallahu wa sallamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Walhamdulillahir rabbil ‘alamin.

Selasa, 17 November 2009

Eksistensi Peradaban Islam Dalam Teologi Sistematika Nuzulnya Wahyu Oleh: DR. Abdul Mannan,SE, MM

Dalam sejarah dikenal adanya masa kejayaan islam (peradaban Islam) yang dimulai masa Rasulullah sampai runtuhnya sistem kekhalifahan Turki Usmani tahun 1924 M. Kemudian dalam perjalanan sejarah sampai sekarang dikatakan sebagai masa kelam karena dianggap peradaban Islam tidak nampak.
Peradaban merupakan istilah yang memiliki makna multi tafsir, tergantung sudut pandang mana yang digunakan. Banyak tulisan baik dalam bentuk buku maupun tulisan lepas lainnya yang menjelaskan tentang makna peradaban dengan segala ruang lingkupnya. Dalam tulisan ini akan mencoba memberikan pandangan baru tentang peradaban Islam berdasarkan perspektif wahyu dengan topik re-eksistensi peradaban Islam. Maksudnya adalah suatu upaya memberikan alternatif makna peradaban khususnya makna Peradaban Islam berdasarkan tata urutan wahyu yang turun pertama kali (Tartibu Nuzulil wahyi).
Tulisan ini juga akan memberikan paradigma baru bagaimana membangun peradaban Islam berdasarkan wahyu (al-Qura'n) dengan mengggunakan istilah strategi pencapaian eksisnya peradaban Islam. Startegi yang dimaksud dibangun bertolak dari penggal ayat – ayat pertama turun di Makkah dengan penjelasan sebagai berikut : (1) Al – Alaq : Filosofi Peradaban Islam, (2) Al – Qalam : Visi, Misi, Strategi Peradaban Islam, (3) Al – Muzammil : Spirit Peradaban Islam, (4) Al – Mudatsir : Manajemen Strategi Peradaban Islam, (5) Al – Fathehah : Existensi Peradaban Islam.
Kata kunci : Peradaban Islam,teologi, dan Sistematika Nuzulnya Wahyu

PENDAHULUAN
Akhir – akhir ini, telah bermunculan tokoh tingkat nasional dan internasional yang memainkan peran sebagai pencerah umat dengan beragam konsep membangun peradaban. Konsep membangun peradaban itu ditawarkan mulai dari rumah tangga hingga tingkat “rumah tangga” negara dan dunia. Jika kita merujuk kembali pada sejarah peradaban mayor, maka sumber inspirasi perjuangan para ahli
1 pernah disampaikan pada acara eksplorasi gagasan tentang Peradaban Islam di Pusat Dewan Pimpinan Hidayatullah, Jakarta 10 Maret 2008.
Eksistensi Peradaban Islam
Dalam Teologi Sistematika Nuzulnya Wahyu
peradaban Islam adalah Nabiullah Muhammad Saw. Adalah suatu momen yang sangat tepat bahwa kita sebagai pencerah (enlighter) umat menggagas diadakannya berbagai diskusi dan seminar tentang peradaban sebagai proses re – eksistensi peradaban Islam.
Filosofi diadakan diskusi tentang peradaban ini adalah karena adanya ketidakpuasan bagi aktivis pencerah umat terhadap kondisi umat manusia yang bertambah terpuruk dari nilai kemanusiaannya. Ketidakpuasan tersebut cukup beralasan karena secara faktual bahwa umat manusia kini eksistensinya sudah menjadi budak materi yang mengindikasikan bahwa fungsi manusia sebagai subyek berubah menjadi obyek. Kegelisahan para pencerah umat khususnya para pemikir Hidayatullah, berkesimpulan bahwa perlu mengadakan suatu terobosan berpikir dan beraksi nyata dalam dunia pencerahan tentang peradaban Islam agar umat manusia pada umumnya dan umat Islam khususnya tidak terjebak dalam rutinitas kehidupan bendawi yang menjenuhkan.
Berkaitan dengan rasa ketidakpuasan tersebut, menimbulkan suatu kerisauan yang melahirkan beberapa pertanyaan : Sejauhmana para pencerah (muballigh) mempengaruhi pola pikir umat dalam memahami ajarannya? Pijakan dan perspektif peradaban apa yang akan ditawarkan ? Bagaimana strategi mengeksplorasi konsep peradaban tersebut ? Untuk apa konsep peradaban tersebut dieksplorasi ? Pertanyaan – pertanyaan ini penting untuk dijawab dalam hubungannya dengan tema peradaban Islam yang akan ditawarkan kepada publik.
Selanjutnya sebagai harapan terhadap diskusi tentang peradaban ini, semoga dapat menghasilkan rumusan konsep peradaban yang dapat diretas lebih lanjut oleh tim khusus peradaban dalam hal ini adalah “INISIASI”2 (Institute of Islamic Civilization Studies and Development) hingga menjadi suatu konsep peradaban yang
2. Adalah lembaga Kajian yang dibentuk oleh Dewan Eksekutif Hidayatullah pada tahun 1999.

Eksistensi Peradaban Islam
Dalam Teologi Sistematika Nuzulnya Wahyu
komprehensif. Untuk itu, kami yakin bahwa tim “INISIASI” akan dapat merumuskan dan menyimpulkan dari berbagai makalah yang disajikan oleh para nara sumber sebagai kunci pembuka inspirasi untuk menggali Sistemaika Nuzulnya Wahyu (SNW) sebagai konsep dasar peradaban Islam yang akan dibangun. Harapan tersebut disampaikan, tentunya didasari oleh suatu pertimbangan idealisme yang tinggi agar kiranya Islam dapat tegak dan jaya kembali melalui sentuhan pemikiran para pakar yang dihimpun oleh “INISIASI”. Untuk menuju kearah sana tiada jalan lain kecuali dimulai dari menggali konsep dasar peradaban Islam yaitu merujuk kepada SNW yang dikemas sesuai dengan tuntutan zaman dan kebutuhan umat.

TINJAUAN LITERATUR
Sejarah manusia pada dasarnya merupakan sebuah proses penciptaan dan kehancuran masyarakat beserta kebudayaan dan peradabannya secara terus-menerus sesuai dengan norma-norma yang pada prinsipnya bersifat moral. Sumber norma-norma itu bersifat transenden, tapi keseluruhan aplikasinya berada dalam eksistensi kesejarahan kolektif manusia yang imanen. Norma-norma yang dimaksud adalah apa yang dalam Islam disebut Sunnatullah (Fazlur Rahman, 1983)
Dari perspektif Al – Qur’an, siklus sejarah manusia dan peradabannya yang demikian itu kemudian menetapkan bahwa Al – Qu’ran telah menjadi saksi atas "hukuman sejarah" yang telah ditimpakan kepada masyarakat, bangsa-bangsa pemilik peradaban terdahulu. Islam pernah berada pada posisi puncak peradaban dunia sampai tiba saatnya mengalami kemunduran, persis seperti peradaban-peradaban masa lampau sebelum Islam hingga runtuhnya Marxisme di negara-negara bekas Uni Soviet pada dasa warsa terakhir milenium kedua.

Eksistensi Peradaban Islam
Dalam Teologi Sistematika Nuzulnya Wahyu
Sebagian peradaban masa lampau telah musnah dan dimusnahkan setutantas-tuntasnya hingga yang tersisa tinggal artefak-artefak material dan kenangan akan kejayaan kognisi intelektual dan spiritualnya. Dikatakan sebagian karena tidak atau belum seluruh dunia dihancurkan. Al – Qur’an membenarkan akan "hukuman sejarah" (baca: kehancuran) itu. Mengapa hukuman sejarah ditimpakan? "Katakanlah, itu dari (kelalaian) dirimu sendiri" (QS. 3:165, juga 3:139-140).
Oleh sebab dosa - dosa dan kelalaian kolektif manusianya, sebuah peradaban dimusnahkan agar menjadi bahan permenungan generasi berikutnya. Munculnya kehendak untuk introspeksi dan itikad untuk memperbaiki diri, menjamin -- setidaknya demikian pesan Al – Qu’ran -- sebagian peradaban masih hidup dan bertahan (QS. 11:100, juga QS. 100:24). Itulah grand design Tuhan, Sunnatullah yang secara sinergis dan relasional dipersaksikan dalam Al – Qur’an.
Peradaban umumnya dipahami sebagai entitas sosial yang besar melebihi individu, keluarga, masyarakat, bahkan negara. Peradaban juga berarti pengelompokan tertinggi orang-orang dan tingkat identitas budaya yang luas dan komprehensif yang membedakannya dengan entitas lainnya. Peradaban dibatasi oleh unsur-unsur objektif seperti bahasa, sejarah, agama, adat istiadat, pandangan dunia (world view), lembaga-lembaga. Ia juga dibatasi unsur subjektif berupa identitas diri peradaban.
Keluasan dan komprehensivitas peradaban menjadikannya tidak eksklusif milik suatu bangsa atau negara tertentu. Ia bersifat melintasi (beyond) batas-batas geografis dan geopolitis sebuah negara. Dalam catatan Arnold Toynbee setidaknya ada dua puluh satu peradaban yang pernah hidup dan mendiami dunia ini, namun sebagian besarnya sudah mengalami siklus kemusnahan sehingga tidak meninggalkan sisa apa pun (Munawar, AM, 2002).

Eksistensi Peradaban Islam
Dalam Teologi Sistematika Nuzulnya Wahyu
Dalam bahasa Indonesia, kata peradaban sering diidentikkan dengan kata kebudayaan. Akan tetapi dalam bahasa Inggris, terdapat perbedaan pengertian antara civilization untuk peradaban dan culture untuk kebudayaan. Demikian pula dalam bahasa Arab dibedakan antara tsaqafah (kebudayaan), hadharah (kemajuan) dan tamaddun (peradaban). Dalam bahasa Melayu istilah tamaddun dimaksudkan untuk menyebutkan keduanya yaitu kebudayaan dan peradaban (LESF,2004.,h.7).
Peradaban (civilization) dapat diartikan sebagai hubungannya dengan kewarganegaraan karena diambil dari kata civies (Latin) atau civil (Inggris) yang berarti seorang warga Negara yang berkemajuan. Dalam hal ini dapat diartikan dengan dua cara (1) proses menjadi berkeadaban, (2) suatu masyarakat manusia yang sudah berkembang atau maju. Berdasarkan pengertian tersebut maka indikasi suatu peradaban adalah adanya gejala-gejala lahir seperti; masyarakat yang telah memiliki berbagai perangkat kehidupan (Fyzee,1982.,h.7-11)
Peradaban adalah identik dengan gagasan tentang kemajuan sosial, baik dalam bentuk kemenangan akal dan rasionalitas terhadap dogma maupun doktrin agama, memudarnya norma - norma lokal tradisional dan perkembangan pesat ilmu pengetahuan alam dan teknologi. Secara metafisis, peradaban juga berarti bahwa manusialah yang merupakan pusat alam semesta (man centred universe) dan bukan Tuhan (God centred universe). Dalam perkembangan selanjutnya, konsep peradaban kemudian diasosiasikan dengan kebangkitan negara – negara absolut, otonomi politik lokal dan uniformitas kultural yang lebih besar dalam negara-negara itu. Segala hal, berupa perbuatan dan pemikiran manusia tak bisa dilepaskan dari peradaban. Jadi, konsep peradaban bersifat mencakup semua. Oleh karena itu, menjadi beradab adalah menjadi santun dan berakhlak baik dan peduli pada orang lain, 5
Re - Eksistensi Peradaban Islam
Dalam Teologi Sistematika Nuzulnya Wahyu
bersih dan sopan dan higienis dalam kebiasaan pribadi dan sebagainya (Mennell, Norbert Elias, 1989.,h. 35).
Sebuah peradaban tinggi seharusnya bisa menjaga keagungan manusianya, memberikan kepuasan terhadap fisik, estetika psikis, dan kreativitas manusianya. Oleh sebab itu, ia meniscayakan adanya fleksibilitas yang saling menunjang antara manusia dan peradabannya. Dari perspektif Bateson itu, kita bisa mengemukakan bahwa superioritas sebuah peradaban tidak merupakan jaminan bahwa ia dan manusia pendukungnya memiliki pencitraan tinggi dan luhur. Hal itu akan sangat ditentukan dan bergantung pada apa - apa yang menjadi pondasi dan tiang penyangganya (Gregory Bateson, 1972).
Peradaban Islam sesungguhnya adalah suatu peradaban yang mempunyai kerangka pedoman berdasarkan Wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Kedua intisari sumber ajaran Islam, al - Qur’an dan al - Hadits adalah seiring dengan perkembangan zaman dan perluasan wilayah penyebaran Islam telah melahirkan sistem gagasan yang tumbuh melalui jalur – jalur pemikiran ke - Islaman. Secara tradisional, jalur pemikiran yang mendorong gerak peradaban umat Islam, ialah dibidang hukum (fiqh), teologi (tauhid) dan mistisisme (tasawuf) (LESF, 2004.,h.10).
Peradaban adalah manifestasi keyakinan dalam setiap aspek kehidupan manusia. Dengan demikian, peradaban Islam adalah manifestasi keyakinan Islam (tawhid) dalam setiap aspek kehidupan Islam (Suharsono,dalam makalah 2006., h.3).
Peradaban Islam adalah membangun setiap aspek dan strategi kehidupan yang merupakan manifestasi dari pada keyakinan atau iman (DPP, 2006).
Selanjutnya, teologi berbicara menyangkut aktivitas mental dan intelektual berupa kesadaran manusia yang paling mendalam dalam menentukan pilihan – pilihan metafisisnya, yang terkait dengan 6
Eksistensi Peradaban Islam
Dalam Teologi Sistematika Nuzulnya Wahyu
hubungannya dengan Tuhan, alam lingkungan dan sesamanya, yang kemudian mewujud dalam tingkah laku nyata kesehariannya. Dengan demikian teologi dalam makna fungsionalnya adalah suatu dorongan hati dan akal yang melahirkan kesadaran metafisis yaitu suatu matra yang paling dalam dari diri manusia baik individu atau kelompok yang memformat pandangan dunianya (world view), yang kemudian merefleksikan pola sikap dan tindakan yang selaras dengan pandangan dunia. Oleh karena itu, teologi pada akhirnya akan mempunyai implikasi yang sangat sosiologis, psikologis, antropologis bahkan politis (Agus Purwadi, 2002.,h.53).
Teologi berangkat dari keimanan terhadap sifat kebenaran mutlak bahan – bahan tekstual kewahyuan – al– Qur’an dan al - Hadits. Para teolog membangun argumentasinya secara dialektis berdasarkan keyakinan baik – buruk tekstual, dari situ berupaya mencapai kebenaran kebenaran baru (Haidar Baqir. 2005.,h.70).
Teologi adalah upaya sistematis untuk menampilkan, menafsirkan, dan membenarkan kepercayaan pada Tuhan dengan cara yang konsisten dan bermakna (kamus filsafat,1995.,h.341).
Teologi memiliki makna yang sangat luas dan dalam. Sedangkan yang dimaksud dengan teologi dalam ruang lingkup filsafat metafisika adalah filsafat ketuhanan yang bertitik tolak semata – mata kepada kejadian alam (teologi naturalis). Pemikiran kefilsafatan tentang ketuhanan ini dengan meningkatkan keteraturan hubungan antara alam dan Pengatur alam tersebut. (Sudarsono, 2001.,h.129).
Adapun Sistematika Nuzulnya Wahyu adalah rumusan pemikiran secara baku berdasarkan urut – urutan turunnya wahyu (ayat – ayat) yang turun pada awal mula (al-Alaq, al-Qalam, al-Muzammil, al-Mudatsir) dan surah al-Fathehah (Wawasan Idiil, 1988).
Re – eksistensi Perdaban Islam dalam Teologi Sistematika Nuzulnya Wahyu adalah “Membangun kembali Peradaban Islam pada

Eksistensi Peradaban Islam
Dalam Teologi Sistematika Nuzulnya Wahyu
setiap aspek dan strategi kehidupan sebagai manifestasi dari pada iman atau keyakinan yang tumbuh dari Sistematika Nuzulnya Wahyu (ayat – ayat) yang turun pada awal mula (al-Alaq, al-Qalam, al-Muzammil, al-Mudatsir) dan surah al-Fathehah”.
Al – Qur’an tidak hadir ke dunia di ruang hampa peradaban. Penelusuran Fazlur Rahman (1983) menunjukkan bahwa menurut Al – Qur’an, ada sebuah diskontinyuitas yang esensial antara peradaban yang tua serta mati dan peradaban yang datang menggantikannya. Dalam Al – Qur’an, pernyataan seperti "maka Kami ciptakan generasi baru" sering ditemui (lihat. QS 6:6, juga QS. 23:31), juga pernyataan bahwa "Kami akan mewariskan dunia kepada bangsa baru yang lebih berhak" (QS. 21:105, juga QS. 33:27).
Sudah barang tentu, yang sesungguhnya mewarisi dunia ini adalah Allah sendiri, tetapi Dia memberikan tanggung jawab untuk menangani masalah - masalah dunia ini kepada bangsa-bangsa yang berhak, selama mereka berkesanggupan (QS. 15:23, juga QS. 19:40). Dari sini bisa ditegaskan lebih lanjut bahwa keniscayaan sebuah peradaban baru akan menggantikan peradaban yang menjelang usang dan uzur, harus terlebih dahulu "memetik pelajaran" dari peradaban yang telah dan menjelang musnah. Jika tidak, mereka akan mengulangi (lagi) siklus sejarah penciptaan dan kehancuran yang sama, karena satu hal; "hukum Allah tidak akan pernah berubah" bagi setiap bangsa dan peradaban.
Itulah sebuah "pandangan dunia Qur’ani", yang dalam konteks siklus peradaban manusia, Al – Qur’an terus-menerus menyuruh manusia (tidak hanya Muslimin) "Untuk berjalan di atas bumi dan (dengan) menyaksikan (merenungkan sebab - musabab dan akibat - akibat yang ditimbulkan dari) nasib yang telah menimpa bangsa - bangsa pemilik peradaban terdahulu" (QS. 3:137, 6:11 dan lainnya).

Eksistensi Peradaban Islam
Dalam Teologi Sistematika Nuzulnya Wahyu
Tiba saatnya, para pencerah umat menggagas diskusi tentang peradaban khususnya peradaban Islam yang akan membuktikan bahwa al-Qur’an adalah Mu’jizat yang dapat mengungguli segala konsep pemikiran man centred. Oleh karena itu, mampukah para pemikir Hidayatullah melahirkan pemikiran – pemikiran strategis yang bersumber dari konsep dasar Sistematika Nuzulnya Wahyu ? Salah satu pemikiran strategis itu adalah konsep peradaban Islam yang dapat dijadikan rujukan semua pihak dalam membangun peradaban manusia yang tinggi.

METODOLOGI
Metode berasal dari bahasa Yunani “methodos” berarti melalui jalan, cara, arah. Metode dapat pula diartikan sebagai uraian ilmiah penelitian, metode ilmiah. Metode juga dapat diartikan sebagai cara bertindak menurut sistem aturan tertentu dengan tujuan agar aktivitas praktis dapat terlaksana secara rasional dan terarah supaya dapat mencapai hasil yang sebaik – baiknya (Sudarsono.2001,.h.86).
Kemudian bagaimana cara menyusun pengetahuan yang benar agar mendapatkan suatu jawaban yang benar pula. Masalah inilah yang dalam kajian filsafat termasuk dalam wilayah epistemologi dan landasannya adalah metode ilmiah. Metode ilmiah adalah cara yang dilakukan ilmu dalam menyusun pengetahuan yang benar. Kemudian apa yang disebut dengan suatu kebenaran itu ? Setiap jenis pengetahuan mempunyai ciri – ciri yang spesifik mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistemoogi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Ketiga landasan tersebut saling jalin berkelindan tak dapat dipisahkan antara satu sama lain. Berdasarkan landasan ontologi dan aksiologi maka bagaimana mengembangkan epistemologi yang cocok. Persoalan utama yang dihadapi oleh setiap epistemologi pengetahuan pada dasarnya adalah bagaimana

Eksistensi Peradaban Islam
Dalam Teologi Sistematika Nuzulnya Wahyu
mendapatkan pengetahuan yang benar dan valid dengan memperhitungkan aspek ontologi dan aksiologi masing – masing. Demikian juga, masalah yang dihadapi epistemologi keilmuan yaitu bagaimana menyusun pengetahuan yang benar untuk menjawab permasalahan mengenai dunia empiris yang akan digunakan sebagai alat untuk meramalkan dan mengontrol gejala alam.
Dengan berkembangnya metode ilmiah dan diterimanya metode ini sebagai paradigma oleh masyarakat keilmuan, maka sejarah kemanusiaan menyaksikan perkembangan pengetahuan yang sangat cepat. Metode ilmiah ini dipelopori oleh Copernicus (1473 – 1543), Kepler (1571 – 1630), Galileo (1564 – 1642) dan Newton (1642 – 1727), dan menurut Whitehead bahwa periode antara 1870 – 1880 sebagai titik kulminasi perkembangan ilmu sejak Helmhoultz, Pasteur, Darwin dan Clerk – Maxwell behasil mengembangkan penemuan ilmiahnya (Alfred N. Whitehead.1948,.h.106, dalam Yuyun).
Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Metode, merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu, yang mempunyai langkah – langkah yang sistematis (Peter R. Senn. 1971,.h.4). Metodologi merupakan suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan – peraturan dalam metode tersebut (ibid.,h.6). Metodologi ilmah adalah merupakan pengkajian dari peraturan – peraturan yang terdapat dalam metode ilmiah. Metodologi ini secara filsafati termasuk dalam apa yang disebut epistemologi. Epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana untuk mendapatkan pengetahuan. Apakah sumber – sumber pengetahuan ? Apakah hakekat, jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan ? Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manusia (William S. Sahakian. 1965.,h.3). Berpikir adalah kegiatan mental yang menghasilkan pengetahuan (T.H. Huxley. 1964., h. 2). Dengan cara bekerja ini, maka pengetahuan yang dihasilkan

Eksistensi Peradaban Islam
Dalam Teologi Sistematika Nuzulnya Wahyu
diharapkan dapat mempunyai karakteristik - karakteristik tertentu yang diminta oleh pengetahuan ilmiah yaitu sifat rasional dan teruji yang memungkinkan tubuh pengetahuan yang disusunnya merupakan pengetahuan yang dapat diandalkan. Dalam hal ini, metode ilmiah mengembangkan cara berpikir deduktif dan induktif dalam membangun tubuh pengetahuannya.
Terkait dengan aksiolgi peradaban Islam adalah sebagai entitas hidup dan kehidupan manusia maka perpespektif pengetahuan yang akan dibangun adalah epistemologi pengetahuan yang bersumber dari Wahyu al - Qur’an dan as- Sunnah. Metodologi seluruh pemikiran Islam salaf bersumber dari sistem logika Aristotelian yang diterjemahkan oleh al-Farabi kedalam lmu mantiq. Berbagai tesis filosofis didalam dunia Islam bersumber dari tradisi Platonian dan Plotinos, sementara tesis – tesis filsafat Barat dibangun dari tesis Aristotelian. Akan tetapi, referensi metodologis keduanya dapat dirujukkan pada tradisi logika Aristotelian.
Paling tidak sedikitnya ada lima aliran dalam filsafat Islam yang menggunakan metode epistemologi untuk mendapatkan suatu kesimpulan (silogisme) dalam mencari tingkat suatu kebenaran. Metode epistemologi yang digunakan oleh Teologi Dialektik hampir sama dengan metode Peripatetistik yaitu bersifat deduktif – silogistik. Yaitu prosedur untuk mendapatkan dari pemahaman baik - buruk suatu kesimpulan (silogisme) dari mempersandingkan dua premis (pernyataan yang sudah disepakati terlebih dahulu nilai kebenarannya). Hanya saja Peripatetisme proses silogistik tersebut didasarkan atau dimulai dari premis – premis yang telah disepakati sebagai kebenaran yang tidak perlu dipersoalkan lagi (primary truth). Sedangkan Teologi Dialektik bertolak dari pemahaman baik dan buruk yang menyebabkan teologi Islam disebut sebagai bersifat dialektik yang dilandaskan pada kebenaran keagamaan (seperti halnya bahwa Tuhan harus Maha Kuasa).

Eksistensi Peradaban Islam
Dalam Teologi Sistematika Nuzulnya Wahyu
Adapun metode epistemologi yang digunakan oleh Illuminisme dan Sufisme atau Teosofi (‘Irfan) adalah metode intuitif atau eksperiensial (pengalaman). Peran intuisi tidak hanya ditemukan oleh para pemikir keagamaan saja, akan tetapi telah dilontarkan oleh Aristoteles bahwa orang – orang yang bisa mencapai kesimpulan silogistik tanpa harus merumuskan silogisme. Yaitu, tanpa harus melalui prosedur analitis penetapan premis – premis dan penarikan kesimpulan berdasarkan penyandingan premis –premis tersebut. Intuisi ini, dalam khazanah filsafat Islam diidentikkan dengan hati (qalb, fu’aad, ruuh, sb). Namun demikian, prinsip dasar Illuminisme juga Sufisme adalah mengetahui sesuatu adalah untuk memperoleh suatu pengalaman tentangnya, yang berarti intuisi langsung atas hakekat sesuatu. Dengan demikian, pengetahuan eksperiensial tentang sesuatu dianalisis secara diskursif (logis) demonstrasional (burhan) diraih secara total, intuitif dan langsung (immediate).
Adapun perbedaan Illuminisme dengan Sufisme atau ‘Irfan (teosofi) antara lain adalah bahwa keduanya mengandalkan pengalaman langsung, akan tetapi Illuminisme percaya bahwa pengungkapan pengalaman tersebut dapat melalui diskursif – logis (metode ilmiah) yang mana hal ini juga diyakini oleh aliran filsafat Hikmah bahkan lebih ekstrem lagi yaitu segala pengalaman intuitif harus dapat diungkapan secara diskursif – logis untuk kepercayaan verifikasi publik (Haidar Baqir,2005.,h.84 – 99).
Epistemologi berarti pengetahuan yang sering disebut teori pengetahuan (theory of knowlege). Persoalan sentral epistemologi adalah mengenai persoalan apa yang didapat kita ketahui dan bagaimana cara mengetahuinya, “what can we know and how do we know it “ (Lacy : 1976, dalam Suhartono.2005.,h.157). Dalam epistemologi terdapat beberapa perbedaan mengeanai teori pengetahuan. Hal ini disebabkan karena setiap ilmu pengetahuan

Eksistensi Peradaban Islam
Dalam Teologi Sistematika Nuzulnya Wahyu
memiliki potensi obyek, metode, sistem dan tingkat kebenaran yang bebeda - beda. Perbedaan itu terletak pada sudut pandang dan metode yang bersumber dari rasionalisme dan empirisme. Dengan demikian, epistemologi merupakan suatu bidang filsafat nilai yang mempersoalkan tentang hakekat kebenaran, karena semua pengetahuan mempersoalkan tentang kebenaran. Proses metodis dalam rangka memperoleh kebenaran, secara epistemologis harus ditopang oleh sistem, yaitu adanya hubungan yang teratur dan konsisten diantara bagian – bagian sehingga membentuk suatu keseluruhan yang utuh.
Epistemologi Bayani (dalil agama) adalah model atau cara memperoleh pengetahuan melalui pendekatan terhadap batin teks : al - Qur’an dan as – Sunnah. Apa yang disebut berpikir hanya merupakan tindakan atau penjelasan bagaimana seseorang mesti berbuat berdasarkan teks al - Qur’an dan as- Sunnah. Rasio dalam hal ini hanya sebagai pengawal atau pembuka secara langsung atau tidak langsung (penalaran) secara bebas tetapi tetap bersandar pada teks. Sedangkan model metodologi Irfani (dalil spiritual), berpikir yang didasarkan pada pendekatan pengalaman langsung atas realitas spiritual keagamaan, yang mengungkapkan pengetahuan yang diperoleh melalui penyinaran hakekat Tuhan kepada hamba-Nya (kassyaf), latihan (riyaadhah) dan kesungguhan (mujahadah). Adapun metode burhani (dalil logika), merupakan pendekatan yang tidak didasarkan atas teks maupun pengalaman, akan tetapi didasarkan pada pemikiran dan kekuatan rasio atau akal yang dilakukan melalui dalil – dalil logika (Sumarna.2005.,h.160).
Dua sumber ajaran Islam yaitu al-Qur’an dan Sunnatullah. Jika wahyu pertama dibacakan Jibril atau bentuk lain, wahyu kedua adalah segala yang wujud ciptaan Allah Swt yang berupa benda mati, tumbuhan, hewan, manusia dan makhluk ghaib. Semua ciptaan ini mempunyai kaidah keberadaannya sendiri yang lebih dikenal sebagai

Eksistensi Peradaban Islam
Dalam Teologi Sistematika Nuzulnya Wahyu
sunnatullah atau prinsip - prinsip dasar keberadaan yang juga disebut hukum alam.
Wahyu pada ranah pertama dipahami dengan menafsirkan teks secara eksploratif, dan wahyu ranah kedua dipahami dengan melakukan deskripsi, eksplorasi, dan eksperimentasi secara sistematis. Bertolak dari kedua pemahaman tersebut, lahirlah dua bagian ilmu paling dasar yaitu; ilmu tekstual tentang segala ciptaan dalam bentuk teks, dan ilmu kontekstual tentang segala ciptaan yang empiris. Kedua ilmu itu disatukan dalam filsafat dengan segala tingkatannya. Oleh karena itu, filsafat sebagai akar ilmu tersusun dalam suatu hierarkhis yang meletakkan metafisika sebagai dasar yang dari padanya lahir berbagai cabang ilmu pengetahuan (teologi, ontologi, fisika, kosmologi, aksiologi, etika, aestetika, logika, epistemologi, dlsb).
Sesuai dengan sifat dasarnya bahwa kebenaran keseluruhan jenis ilmu diatas adalah relatif dan belum final. Hanya Allah Swt dan firman-Nya yang bersifat final. Akan tetapi fungsi dari segala ilmu itu ialah panduan bagaimana manusia hidup dalam hubungan dengan segala benda mati, tumbuhan, hewan dan manusia serta makhluk ghaib dan khususnya hubungan dengan Allah Swt. Dan, perlu diketahui bahwa puncak metafisika itulah terletak keberadaan ilmu tentang Yang Maha Ghaib (Allah Swt). Ilmu tauhid hanyalah sebuah penghampiran atas obyek Maha Ghaib (Allah Swt) yang hanya bisa diteruskan dengan proses yang disebut “hudhuri” (unspeakable) yaitu kesatuan subyek dan obyek, seperti yang ditempuh oleh Suhrawardi al-Maqtul dan Immanuel Kant.
Jika eksplorasi pengetahuan dilakukan untuk mencari dasar atau pondasi re - eksistensi peradaban Islam secara tekstual dan operasional hendaknya dilakukan suatu pendekatan historis yaitu Sirah Nabawy. Secara epistemologis berakar dari pada teks Nuzulnya Wahyu pada awal- awal turunnya di Makkah. Epistemologi re-eksistensi peradaban

Eksistensi Peradaban Islam
Dalam Teologi Sistematika Nuzulnya Wahyu
Islam pada era ini menduplikasi sebagaimana Nabi Muhammad Saw meletakkan dasar peradaban Islam pada awal mula. Pemikiran ini pula yang diadopsi oleh Suhrawardi al-Maqtul yang telah mengklaim dirinya sebagai pemersatu peradaban yang sempurna. Dalam pengembaraan pemikirannya untuk menemukan suatu kebenaran mutlak ia mencari sampai kepada sumber yang paling awal. Menurutnya, bahwa hikmah kebenaran itu satu, abadi, dan tidak terbagi – bagi. Bahkan ia menyarankan kepada semua orang agar mengikuti cahaya hikmah dimana saja, kapan saja cahaya itu menyinarinya, yang disebut al-hikmah al-laduniyah. Adapun sebagai metode pendekatan untuk mendapatkan pengetahuan ia membaginya kedalam dua metode yaitu metode hushuuli dan metode hudhuri (Amroeni,2005.,h.30-135).
Sistematika nuzulnya Wahyu berupa penggalan ayat – ayat yang turun di Makkah seperti penggal lima ayat pertama surah al-Alaq, penggal tujuh ayat surah al-Qalam, penggal 10 ayat surah al-Muzammil, penggal tujuh ayat surah al-Mudatsir, dan surah al-Fathehah, adalah sebagai kerangka dasar berpikir sistemik untuk mewujudkan suatu peradaban. Jika dan hanya jika al - Qur’an dan as - Sunnah dijadikan sebagai landasan pemikiran (unspeakable) dan aksi (speakable) peradaban Islam yang komprehensif dalam membangun tatanan nilai hidup dan kehidupan yang tumbuh dari suatu ideologi (iman) yang implementasinya diyakini akan mendatangkan kebahagiaan, tentu saja diskusi ini harus bertolak dari person changer sebagai subyek atau agen perubahan.
Selanjutnya, ontologi adalah bidang kajian spesifik tentang benda mati, tumbuhan, hewan, manusia, dan makhluk ghaib yang pada umumnya dikaji dalam metafisika. Misalnya, tauhid merupakan derivasi teologi, sementara ilmu ke-Islaman yang lain berposisi sejajar dengan ilmu alam, sosial, humaniora, dlsb. Letak bedanya jika ilmu ke - Islaman dibangun secara deduktif dari data verbal al - Qur’an dan Sunnah, maka

Eksistensi Peradaban Islam
Dalam Teologi Sistematika Nuzulnya Wahyu
ilmu alam, sosial, humaniora (sunnatullah) dibangun dari data kuantitas alam, sosial, budaya dalam proses induktif (Mulkan, dalam Purwadi. 2002). Mengingat tauhid adalah merupakan derivasi teologi yang akan membahas tentang causa prima sebagai dasar lahirnya akar peradaban Islam maka sumber utama kajian peradaban Islam adalah al - Qur’an dan as-Sunnah. Secara ontologis diskusi akan bertolak dari realita umat Islam yang secara politis terpuruk posisinya dan terjadi gap atau kesenjangan yang sangat dalam antara visi ajaran al - Qur’an dan as - Sunnah dengan realita masyarakat Islam di seluruh dunia kini.

PEMBAHASAN
Pada tataran yang luas, dalam sejarah manusia peradaban – peradaban besar umumnya identik dengan agama – agama besar dunia, dan orang – orang yang memiliki kesamaan etnis dan bahasa namun berbeda agama bisa saja saling membunuh satu sama lain. Statemen ini melahirkan peradaban plural yang ujungnya adalah agama adalah sama, bahkan tidak perlu lagi agama sehingga lahir pemikiran suatu peradaban universal. Itulah jati diri Kapitalis.
Kemudian untuk apa agama diturunkan ke dunia ? Para pakar peradaban seperti; Oswald Spengler, Max Weber, Emile Durkheim, Marcel Mauss, Alfred Weber, Carol Quigley, Rushton Coulborn, Fernand Braudel, Toynbee, dlsb. sependapat bahwa akar peradaban adalah agama. Bahwa orang – orang yang memiliki kesamaan ras dapat benar – benar terpisahkan melalui peradaban, dan orang – orang yang memiliki perbedaan ras dapat dipersatukan oleh peradaban. Utamanya melalui dua agama besar yaitu; Islam dan Kristen yang mampu melindungi dan menaungi kelompok – kelompok masyarakat yang berasal dari pelbagai suku bangsa. Pembedaan krusial antara pelbagai golongan – golongan manusia berkaitan dengan nilai - nilai, keyakinan -

Eksistensi Peradaban Islam
Dalam Teologi Sistematika Nuzulnya Wahyu
keyakinan, institusi – institusi, dan struktur – struktur sosial mereka, bukan pada ciri – ciri pisikal mereka.
Berdasarkan statemen para pakar peradaban tersebut, maka fokus diskusi peradaban ini adalah peradaban Islam. Para sarjana besar peradaban mengakui bahwa keberadaan Islam sebagai suatu peradaban tersendiri. Peradaban Islam terlahir dari semenanjung Arabia pada abad ke VII M, dan menyebar keseluruh Afrika Utara, semenanjung Iberia, Asia Tengah, Anak Benua dan Asia Tenggara. Peradaban Islam dibangun atas dasar Wahyu al - Qur’an dan as-Sunnah Rasulullah Muhammad Saw. Bertolak dari kedua sumber dasar tersebut lahir suatu peradaban Islam yang komprehensif. Tampaknya, peradaban Islam itu sebuah refleksi atas pemahaman terhadap penggal ayat – ayat al - Qur’an yang diturunkan pada awal mula. Dari sinilah segala ilmu (metafisika dan fisika) dibangun. Dengan demikian, dasar ilmu pengetahuan dan sains hendaknya mempunyai hubungan erat dengan ajaran Islam, sehingga tidak ada lagi dikotomi antara ilmu agama dan umum. Hal ini demi memastikan agar kemajuan sains dapat mendatangkan kebaikan bukan keburukan.
Suatu peluang yang sangat strategis jika dilihat dari sudut pandang strategi anti decline yang menurut istilah Charles Handy (1994) bahwa perubahan mengikuti kurva “S” (Sigmoid Curve) yaitu segala sesuatu pasti melalui pasang surut dalam siklus kehidupan termasuk didalamnya suatu peradaban. Bagi orang yang berpikir strategik, didalam benaknya senantiasa berpikir suatu perubahan. Dan, perubahan itu sendiri merupakan mindset yaitu berpikir antisipatif agar segala sesuatu yang telah dicapai itu tidak terjadi decline. Mengapa decline peradaban Islam pasca Rasulullah Muhammad Saw dan Khulafaur Rasyidin yang bakal terjadi tidak diantisipasi oleh para khalifah Bany Abbasiyah dan Umayah ? Dan, yang lebih penting dari itu semua apa yang harus dilakukan oleh umat Islam saat ini dalam upaya

Eksistensi Peradaban Islam
Dalam Teologi Sistematika Nuzulnya Wahyu
mengembalikan eksistensi peradaban Islam ? Apa konsep yang tepat sebagai rujukan membangun peradaban Islam dewasa ini ? Perspektif peradaban Islam apa dan bagaimana yang akan dibangun ?
Pertanyaan – pertanyaan diatas men-stressing pada pernyataan pertanyaan (statement questions) tentang peradaban Islam yang akan dibangun. Oleh karena itu, jika sependapat bahwa peradaban Islam dibangun diatas Wahyu al - Qur’an dan as - Sunnah, tentu saja ayat – ayat awal surah al - Alaq (1- 5) merupakan fondasi lahirnya peradaban Islam yang dimulai dari pada pencerahan tata nilai dasar peradaban Islam, yaitu tauhid / aqidah / ideologi.
Bagi kaum muslimin atau ideolog muslim dewasa ini sudah saatnya untuk berpikir rekonstruksi fondasi peradaban Islam untuk mengentaskan krisis eksistensi manusia . Dalam kerangka ini, INISIASI hendaknya memberikan kontribusi penting dengan menawarkan pandangan dunia (world view) yang utuh, holisitik, dan penuh makna kepada manusia modern, baik dalam kajian epistemologi, metafisika, etika, kosmologi, dan psikologi yang merupakan manifestasi nilai tauhid. Pada sifat – sifatnya yang seperti inilah diharapkan manusia dapat memperoleh kembali pegangan hidup yang hakiki yang bersamanya pula dapat memuasi tuntutan intelektual dan spiritualnya.
Dari uraian diatas, paling tidak ada tiga manfaat yang dapat diperoleh dengan mengembalikan tauhid sebagai dasar sistem kehidupan, diantaranya adalah ; (1) intelektual dapat memajukan sikap kritis dan analitis terhadap sistem kehidupan yang ada, (2) mendorong kaum muslimin agar memahami kompleksitas pesoalan dalam upayanya membangun sistem – sistem kehidupan Islami, (3) penguasaan isue – isue filosofis mendasar untuk mengakhiri perbedaan.
Proses dialog yang digalakkan dalam diskusi ini adalah membahas masalah – masalah eksistensi sehari – hari yang umumnya bersifat fisikal dan inderawi ke “dunia lain” yakni didalamnya pengertian

Eksistensi Peradaban Islam
Dalam Teologi Sistematika Nuzulnya Wahyu
agama dan keimanan beroperasi. Kenyataan inilah yang dapat mendekatkan diri kita kepada (pengetahuan) tentang elemen – elemen keimanan termasuk tentang Tuhan (ALLAH SWT), Malaikat, Nabi dan Rasul, Hari Akhir, dan sebagainya. Dalam konteks keimanan bahwa Tuhan sebagai pusat keimanan merupakan misteri yang mengandung kedahsyatan (misterium tremendum). Aspek ketuhanan ini sangat penting sebagai sarana menimbulkan ketaatan dan penghambaan kepada hukum Tuhan diantara para penyembah – Nya. Namun Tuhan juga memiliki aspek pesona dan rasa cinta (fascinosum) kepada semua hamba – Nya. Oleh karena itu, kajian dasar peradaban Islam harus dan hanya dimulai dari misteri puncak (the ultimate mystery) yaitu mengenal Tuhan (ma’rifatullah atau gnosis).
Pelaku utama sebagai peletak pondasi peradaban yang bertolak dari ajaran tauhid adalah para Nabi dan Rasul. Para ahli peradaban dunia telah mengakui bahwa peletak dan penegak peradaban Islam adalah Nabiullah Muhammad Saw. Pada saat ini merupakan moment strategis bagi ideolog Islam merekonstruksi ajaran tauhid sebagai basis re – eksistensi peradaban Islam. Metodologi yang tepat sebagai sarana pendekatan adalah Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW) dengan benchmark sirah Nabawiyah.

SISTEMATIKA NUZULNYA WAHYU
Adalah suatu keberanian yang sangat menantang. Mendefinitifkan bahwa peradaban Barat saat ini sudah sekarat merupakan statemen yang mengundang kontroversial ditengah internal dan eksternal umat Islam. Statemen ini juga suatu keberanian para futurolog Muslim yang berpikir antisipatif untuk mengisi chaos peradaban Barat. Indikator sekaratnya peradaban Barat diantaranya adalah sikap memaksakan diri untuk eksis tunggal didunia. Menurut hukum life cycle of organization bahwa kondisi peradaban Barat sudah

Eksistensi Peradaban Islam
Dalam Teologi Sistematika Nuzulnya Wahyu
pada puncaknya sehingga decline secara frontal terjal atau gradual tinggal menunggu waktu yang tepat.
Seusai pasca perang dingin berakhir, arah kebijakan politik agen peradaban Barat adalah melakukan represif dinegara – negara yang dianggap reval. Setelah Komunis dinyatakan ambruk berkeping, yang menjadi sasaran utama adalah Islam. Fakta membeberkan bahwa penyerangan terhadap Afghanistan, penjajahan terhadap Irak, serta intervensi politik di berbagai negara yang dilakukan Amerika dan sekutunya adalah representasi peradaban Barat yang berperilaku biadab menjelang sekarat. Kebiadaban itu, akan lebih mempercepat proses decline nya Amerika dan sekutunya yang suatu saat kondisinya akan dibawah duli kehinaan. Jika mereka tidak beriman kepada Allah Swt.
Perspektif ajaran Islam menawarkan kepada dunia bahwa hanya dengan Islam dunia ini akan damai, sejahtera seperti yang telah dibuktikan oleh para pelaku sejarah peradaban Islam sejak zaman Nabiulah Muhammad Saw hingga Turki Usmani. Mengingat peradaban Islam telah membuktikan eksistensinya sebagai suatu sistem hidup dan kehidupan yang berdimensi dunia dan akhirat, maka umat Islam tidak gentar menghadapi segala risiko yang akan terjadi sebagai proses re – eksistensi peradaban Islam abad ini. Bagi umat Islam, dunia bukanlah tujuan akhir, tetapi merupakan media transit menuju dunia baru yaitu akhirat yang kekal dan abadi. Oleh karena itu, berjuang atau tidak, mati pasti terjadi sehingga bagi umat Islam mati itu merupakan suatu hal yang biasa bahkan diidamkan untuk mati yang lebih mulia yaitu mati Syahid, demi eksistensi peradaban Islam.
Konsep dasar peradaban Islam yang dapat mengantarkan pelakunya untuk rela berkorban segala yang dimiliki adalah Sistematika Nuzulnya Wahyu. Keikhlasan dan kematian dalam syahid merupakan rabuk perjuangan tegaknya peradaban Islam. Adapun strategi

Eksistensi Peradaban Islam
Dalam Teologi Sistematika Nuzulnya Wahyu
mengeksplorasi konsep peradaban Islam tersebut diperlukan keseriusan para ideolog Islam untuk terus menggali kedalaman makna al – Qur’an dan as - Sunnah dengan benchmark sirah nabawiyah. Untuk itu, ditawarkan kepada seluruh audiensi bahwa strategi pencapaian eksisnya peradaban Islam yang dibangun bertolak dari penggal ayat – ayat pertama turun di Makkah dengan judul sebagai berikut : (1) Al – Alaq : Filosofi Peradaban Islam, (2) Al – Qalam : Visi, Misi, Strategi Peradaban Islam, (3) Al – Muzammil : Spirit Peradaban Islam, (4) Al – Mudatsir : Manajemen Strategi Peradaban Islam, (5) Al – Fathehah : Existensi Peradaban Islam.

KESIMPULAN

Bahasan tentang peradaban adalah merupakan masalah yang sangat besar dan mendasar. Oleh karena itu, diperlukan konsentrasi diskusi yang intensif dan fokus, sehingga akan melahirkan suatu konsep peradaban Islam yang dapat dijadikan rujukan oleh semua pihak.

Peradaban Islam sebuah keniscayaan yang harus dibangun kembali sebagai indikator bangkitnya Islam jilid dua pada millineum III. Dengan demikian, diperlukan strategi kebangkitan itu sendiri.

Mengingat peradaban Islam yang akan dibangun, tentu saja harus ditentukan perspektif peradaban Islam yang bagaimana dan apa serta siapa standard peradaban itu ?

Perlu ditetapkan tujuan membangun peradaban Islam agar supaya semua aktivitas diskusi dan aksi serta proses implementasi konsep peradaban tidak bias.

Anggaran diskusi peradaban adalah tidak terbatas (unlimited) karena besarnya cakupan konsep dan implementasi peradaban itu sendiri. Sehingga, diperlukan kreasi atau innovasi untuk mencari sumber dana yang dapat membiayai diskusi dan implementasi hasil diskusi.

Bedah Buku


Buku adalah jendela ilmu. Al-Qur'an sering disebut sebagai Kitab dalam ayat-ayatnya. Sehingga Ahli Kitab berarti yang mempelajarinya dalam wilayah Islam yang kita kenal. Sebagaimana wahyu pertama adalah perintah "baca". Walaupun "baca" menempati berbagai wilayah pemahaman, namun kaitan dalam hal ini adalah membaca kitab/buku. Akan susah membaca Al-Qur'an dan langsung menemukan maknanya, jika kita tidak bisa mengaitkan persoalan yang ada. Sebagaimana peta akan berguna jika kita bisa mencocokan dengan kondisi jalan. Rambu-rambu dimana-mana, namun jika tidak cukup pandai membacanya, akan susah kita mengambil pelajaran. Maka dalam hal ini kita harus pandai-pandai dalam membedakan mana-mana sumber yang patut kita ambil pelajaran, sehingga kekeruhan pikiran tidak terjadi. Menyadari atau tidak Alloh kuasa atas semua ini. Baiklah saya batasi pada pengertian buku selain Al-Qur'an, buku ataupun wacana yang ada pada media cetak maupun elektronik (internet, dsb) dalam konteks Islam. Ada 3 kategori buku menurut tingkatan : Etika-Estetika-Logika 1. Etika, membahas prihal tata cara dan hukum (Syariat dan Fiqh) - Wilayah ini sudah banyak kita ketahui, bahkan sebagian besar kajian agama lebih banyak seputar ini. 2. Estetika, membahas seputar keindahan, ungkapan2 cinta, puisi, hikayat/khasidah, dsb. - Wilayah ini sangat exclusive, hanya orang-orang yang sudah merasakannya saja dapat mengerti. 3. Logika, membahas keterkaitan suatu masalah dari akar sampai pucuk dengan perumpamaan yang mudah dipahami; mengajarkan hikmah. - Wilayah ini, sedikit saja orang yang memiliki, karena diperoleh dari suatu perjalanan yang jauh/panjang. Kajian-kajianya dapat menjadi referensi semua kalangan. Adapun wilayah-wilayah khusus ia tidak sembarangan untuk menuangkan pengetahuannya. Menurut Ruang-Gerak-Waktu a. Ruang Ruang dalam kaitan ini adalah ruang pemahaman, dimana seseorang tidak lepas dari pengamatan apa yang dikaji dari permasalahan yang dihadapi. Permasalah-permasalahan yang ada disekelilingnya dari yang terkecil sampai pada wilayah yang lebih luas (alam semesta). Seorang dokter, arsitek, ahli goelogi, IT dihadapkan pada permasalahan yang berbeda. Disinilah wilayah yang saya maksud. b. Gerak Gerak pertumbuhan ilmu. Masing-masing berangkat dari ketidaktahuan "kenapa saya ada?", "buat apa saya hidup?" gerak ini tidak bisa ditolak, masing-masing tumbuh menjadi dewasa. Seseorang seharusnya dapat memahami arti gerak kehidupannya. "Kemana arah dan tujuan hidupnya?", "Apa yang selalu ia kejar, apa yang ia impikan, apa yang ia harapkan?". Gerak itu maya. Seseorang beranjak dewasa namun belum tentu pikiranya tambah dewasa pula. Seseorang meraih gelar doktor namun belum tentu titlenya sebanding dengan title yang Alloh berikan kepada hambaNYA yang sholeh. c. Waktu, memiliki kaitan yang sangat erat dengan sejarah yaitu suatu perjalanan dari ruang dan gerak menjadi suatu kesimpulan global; suatu keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan. Jika kita pandai mengambil pelajaran dimana alam semesta ini di didesain sedemikian sempurna; rumit namun memiliki prinsip yang sama. Namun tidak sedikit orang yang terjebak pada wilayah tertentu, karena salah mengambil pijakan. Kunci-kunci yang Alloh berikan tidak dimanfaatkan dengan baik. Alam-Kalam-Ilmu Kaitan ini saya ambil sebagai suatu kesimpulan saja, jika dikaitkan dengan lingkup diatas maka Alam adalah objek pengamatan. Kalam adalah jembatan untuk menerjemahkan Alam kedalam ilmu. Sebagaimana yang sedang kita bahas ini adalah Ilmu. Pentingnya ilmu sudah sama-sama kita ketahui dalam Al-Hadist dan dalam Al-Qur'an banyak sekali ; akal, penglihatan, mengerti, memahami, dsbnya. Adapun logika yang dirumuskan secara sistematis seperti halnya ilmu mantiq tidak mampu untuk menjawab. Kenapa? Kembali saya tekankan bahwa bukan luasnya ilmu yang kita kaji yang dapat mengangkat seseorang pada posisi yang tinggi. Namun seberapa ia mampu membawa ilmu tersebut menjadi suatu kemaslahatan bagi umat. Ilmu atau apapun yang kita peroleh dari apa yang kita usahakan tidak sebanding dengan apa yang diberikan sama Alloh. Jangan sampai ilmu itu membakar diri sendiri. Jangan sampai harta yang ia makan menjadi buah zaqum. Jangan sampai usia yang panjang menjadi sesuatu yang sia-sia dan senantiasa menjadi orang yang merugi. [62.5] Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang lalim. Jangan sampai kita seperti orang Yahudi, segala kitab dipelajari namun kitab yang diturunkan kepada mereka diperlihatkan sebagian dan yang banyak justru disembunyikan; menjadi lembaran yang bercerai berai. Maka wajar jika dikatakan sebagai keledai (dungu). Dungu menurut Alloh yaitu tidak memahami petunjukNYA tidak memperoleh cahayaNYA, walaupun kajiannya sangat luas. Adakah kita penasaran mengapa mereka begitu giat mencari kehidupan diluar bumi? Di swiss membuat gudang dimana segala benih disimpan dengan mengebor gunung es. Fakta apa yang mereka ketahui terutama 2012? Menarik sekali untuk kita kaji. Mereka adalah orang-orang yang sangat takut mati, walaupun harus bersekutu dengan Iblis tidak akan peduli. Naudhubillah. Mari kita tengok amalan kita untuk hari esok. Dengan segenap kemampuan yang ada. Galilah kesadaran jangan terus terlena, lalai dari Alloh. Sampai hidayah itu datang. Tiada daya upaya selain dari pertolongan Alloh. Segala puji bagiNYA tuhan semesta alam.

Rabu, 04 November 2009

Hakikat Menyembelih Hewan Qurban


Assalamualaikum Wr. Wb,

sebulan lagi Kita akan melaksanakan Hari Raya Idhul Adha, dimana pada hari Raya
itu juga kita akan melakukan ibadah Qurban. Yaitu meneyembelih hewan tertentu sebagai Qurban.
Tetapi pernahkah kita mencoba merenungi lebih dalam makna Qurban itu..??

Sebagian besar umat menganggap bahwa qurban adalah identik dengan
bersedekah kambing kepada kaum miskin yang kurang mampu.
Ada pula sebagian yang berpikir bahwa qurban identik dengan
penyembelihan sifat sifat kebinatangan di dalam diri kita.
Apakah hanya seperti itu makna Qurban ..?

Mengapa kita tidak mau berpikir sebentar saja, dan mengkaji lebih dalam lagi

Pernahkah kita berpikir, mengapa Allah SWT memberi perintah yang
kejam pada Nabi Ibrahim..untuk menyembelih putranya..?
Dan mengapa pula Nabi Ibrahim tidak mengartikan itu sebagai perintah
iblis..?

Mengapa Ibadah Qurban berbarengan dengan Ibadah HAJI..?

Mengapa Qurban tidak boleh diganti dengan ayam yang harga nya
senilai dengan kambing.? Misal 100 ekor ayam..?
Padahal ayam lebih digemari daripada kambing atau sapi atau onta .
Mengapa harus Kambing , Onta atau Sapi..?

Atau mengapa tidak bisa digantikan dengan uang yang relatif lebih
mudah ditangani dan lebih bermanfaat daripada daging..? bahkan
dengan uang mereka juga bisa beli daging kambing dll

Tidakkah kalian mau berpikir sebentar saja..!!!????

Sesungguhnya ada sesuatu yang sangat mengagumkan di dalam ajaran
ibadah Qurban, kalian akan terkagum
kagum kepada ajaran Nabi Ibrahim AS itu apabila tahu rahasia di
dalamnya.
Ada suatu pelajaran penting tentang keseimbangan ekosistim di muka
bumi, yang dapat kita temui di dalam ibadah Qurban

Mari kita sedikit mengkajinya.

Pada tataran kesadaran fisikal, ibadah Qurban dimaknai sebagai tindakan untuk "menyembelih sifat sifat kebinatangan" Pada tataran kesadaran Qalbu, ibadah Qurban bisa dimaknai sebagai
tindakan pengungkapan kasih sayang kepada kaum Dhuafa,dengan berbagi kebahagian untuk menikmati daging.

Apakah hanya segitu saja makna Qurban..?

Mari kita tingkatkan satu lapis lagi kesadaran kita, yaitu tataran Kesadaran Ruh, maka kalian akan melihat bagaimana pergerakan ruh para Haji yang mabrur itu. Demikian juga pergerakan ruh para hewan Qurban.

Menyembelih sifat kebinatangan, apa cukup hanya dengan menyembelih hewan Qurban..? tentu saja tidak .!!
Pengungkapan kasih sayang kepada sesama manusia, kaum dhuafa, dengan berbagi sedekah daging...kenapa tidak daging ayam saja..? Atau kenapa tidak diganti uang saja ..? Lebih praktis dan lebih luas penggunaanya daripada sekedar menikmati daging bukan.??!!

Tidak ..sekali kali tidak..!

Meskipun daging Qurban, menumpuk tak terbagikan di Arab Saudi,( mubazir ) tetapi Qurban tetap tidak bisa diganti dengan uang. Meskipun sebagian ulama fiqih mencoba mengganti Qurban dengan uang untuk dikirim ke Sumatera Barat pasca Gempa, maka ulama ulama sufi melarang.

Ibadah Qurban memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekedar nilai peyembelihan sifat kebinatangan atau berbagi bagi daging.
Dimensi ibadah qurban itu menggapai dimensi ruh daripada hewan hewan Qurban itu.
Ya, selain memberikan efek kepada kita manusia yang berkurban, qurban juga memberi efek kepada hewan hewan yang kita qurbankan

Hewan hewan Qurban yang dipilih adalah hewan hewan tertentu,
dan..harus yang sempurna tanpa cacat.
Karena hewan hewan ini akan memasuki "surganya", yaitu mewujud dan terlahir di alam kesadaran manusia sebagai manusia baru pada strata sosial dan peradaban yang sesuai.

Hewan hewan qurban itu dipilih dari hewan spesies "tingkat" (maqam) tinggi yang sudah mendekati tingkatan spesies manusia. Jadi ayam ayam atau sejenisnya, tidak dimasukkan sebagai hewan Qurban , karena belum mendekati tingkat/maqam manusia.

Lalu mengapa harus ada Qurban..?

Ingatlah bahwa Nabi Ibrahim di turunkan wahyu untuk "menyembelih"puteranya.
Tentu saja maknanya peristiwa itu bukan meyembelih yang sebenarnya.

( Note : Ajaran agama yang sulit diterjemahkan ke dalam bahasa verbal dan akal manusia pada jamannya , biasanya disampaikan dalam bentuk simbol simbol/cerita cerita. demikian juga tentang kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail itu.)

Tetapi beliau diperintahkan untuk mencari pengganti posisi dirinya yang sudah mabrur.

Beliau memberikan pelajaran kepada kita bagaimana siklus ekosistim terbentuk.
Bahwa manusia yang sudah memasuki plane of eksistensi yang non material, dengan kata lain alam surgawi, kelak ketika mati, mereka tidak akan tersiklus lagi di alam material bumi.
Manusia yang sudah mabrur , sudah lagi bukan milik bumi, maka dia tidak akan terlahir dan tersiklus lagi di muka bumi.

Maka dibutuhkan pengganti mereka, untuk menjaga keseimbangan spesies , karena jumlah manusia akan menyusut bila semakin banyak manusia yang berhasil mabrur dan lepas dari siklus bumi.
Tentu saja secara alamiah siklus itu juga terjadi, bukan hanya saat ibadah Haji dan Qurban saja. Tetapi ketika Islam memberi saluran bagi mahluk berkesadaran manusia, untuk berjalan memasuki plane of eksistensi yang lebih tinggi.. (merekalah Haji yang mabrur. Maka Islam pun memberi jalan pula bagi mahluk Allah yang masih di alam kegelapan hewani , untuk masuk ke plane of eksistensi alam kesadaran (manusia)....merekalah para hewan qurban itu..yang
akan menjadi para pejalan baru (khalifah ) di muka bumi.
Mereka akan terlahir pada strata awal tingkat kehidupan manusia.

Pada kisah Qurban Nabi Ibrahim , awalnya Nabi Ibrahim mengisyaratkan akan menyembelih putranya, tetapi kemudian diganti dengan seekor domba .

Ini mempunyai makna, domba itu mengganti posisi manusia di muka bumi, dia akan mewujud dan terlahir lagi di alam kesadaran manusia sebagai manusia baru. Sementara sang nabi sudah menjadi milik alam surgawi. posisinya di muka bumi sudah tergantikan oleh hewan qurban
tadi , sebagai "manusia baru"

Domba itu dengan kekuatan keikhlasan si PengQurban kepada Allah SWT, ditarik memasuki "medan morphis" spesies manusia. (note : pelajari mengenai Medan Morphis Rupert Sheldrake ).

Dengan begitu kelangsungan kekhalifahan spesies manusia di muka bumi tetap terjaga sampai akhir jaman. Dan menutup kemungkinan bumi akan dikuasai lagi oleh mahluk mahluk berkesadaran rendah seperti Dinosaurus dsb.

Semua itu adalah wahyu yang turun karena Nabi Ibrahim bermunajat kepada Allah SWT, tentang bagaimana Allah menciptakan manusia. Dan Allah menjawab dengan menurunkan wahyu itu.

Kaitannya Qurban dengan ibadah Haji,
Seperti halnya Nabi Ismail yang digantikan domba, maka para "Haji yang Mabrur" juga harus digantikan posisinya.Karena kalau para "Haji yang Mabrur" tidak tergantikan, maka keseimbangan alam akan guncang pada suatu masa, karena jumlah manusia akan susut nantinya kalau banyak manusia yang sudah berhasil berevolusi mencapai tingkatan non
fisikal.

Nah begitulah sedikit renungan pengkajian ibadah Qurban dari sudut pandan Esoteris Islam, maka jangan bingung lagi mengapa Allah SWT memerintahkan seorang Nabi menyembelih Puteranya sendiri. Kalau itu diartikan letterlijk maka dengan mudah kita akan mengartikan itu adalah perintah dari iblis.

Dan jangan lagi beranggapan bahwa Qurban identik dengan "menyembelih sifat hewan dalam diri", Pula jangan lah hanya mengartikan Qurban hanya sekadar bagi bagi daging seperti halnya sedeqah, terlalu enteng.!

Itulah makanya Islam pantas disebut rahmatan lil alamin, Islam yang menyentuh semua lapisan plane of eksistensi di alam raya ini sangat perduli terhadap keseimbangan ekosistim seluruh alam semesta.

Setelah mata fisik terbuka ..
Setelah mata fikir terbuka ..
setelah mata qalbu terbuka..
Bukalah mata ruh mu, sehingga kau akan melihat rahasia rahasia itu.
Sampai kelak tibalah persatuanmu dengan Dia yang Maha Haq.

MAKA KETAHUILAH, ADA MAKNA MAKNA YANG SANGAT DALAM DI DALAM SEMUA
CERITA CERITA, DAN SYARIAT AGAMA ISLAM.

Selamat datang wahai para hewan Qurban..!!
Kalian memulai perjalanan pencarian di muka bumi ini sebagai Khalifah, menggantikan para Haji yang mabrur itu..!! Sebagaimana domba Nabi Ibrahim menggantikan posisi Nabi Ismail AS.

Selamat jalan wahai para Haji yang Mabrur, kalian tetap betubuh fisikal di muka bumi ini, tetapi jiwa kalian sudah memasuki alam dimensi surgawi.

Maka rantai kehidupanpun tetap terjaga, dan Sang Ibu bumipun tersenyum melihat anak anaknya yang sudah Mabrur, dan terbang menjadi anak anak surgawi, Sang Ibu bumi pun tersenyum pula melihat anak anaknya dari alam hewani yang muncul sebagai bayi bayi manusia baru dan akan menjadi khalifah yang mengurus sang ibu Bumi.

Tidakkah kalian mau berpikir sebentar saja..???

Aku persembahkan satu karya Rumi dibawah ini buat rekan,:

PENDAKIAN JIWA

Aku mati sebagai MINERAL dan menjadi TUMBUHAN,
Aku mati sebagai tumbuhan dan muncul sebagai HEWAN,
Aku mati sebagi hewan dan aku menjadi INSAN.

Mengapa aku mesti takut ?
Bilakah aku menjadi rendah karena kematian.?
Namun sekali lagi aku akan mati sebagai Insan,
Untuk membumbung bersama para MALAIKATt yang direstui,
Bahkan dari tingkat malaikatpun aku harus wafat.

Segala akan binasa kecuali Tuhan.
Ketika jiwa Malikatku telah kukorbankan,
Aku akan menjadi SESUATU yang tak pernah terperikan oleh pikiran.

O biarkanlah aku tiada.! Karena Ketiadaan
Membisikkan nada dalam telinga.
Sesungguhnya kepadaNYAlah kita kembali

Matsnawi III, 3901
Jalaluddin Rumi

Wallahualam Bisshowab