Buku adalah jendela ilmu. Al-Qur'an sering disebut sebagai Kitab dalam ayat-ayatnya. Sehingga Ahli Kitab berarti yang mempelajarinya dalam wilayah Islam yang kita kenal. Sebagaimana wahyu pertama adalah perintah "baca". Walaupun "baca" menempati berbagai wilayah pemahaman, namun kaitan dalam hal ini adalah membaca kitab/buku. Akan susah membaca Al-Qur'an dan langsung menemukan maknanya, jika kita tidak bisa mengaitkan persoalan yang ada. Sebagaimana peta akan berguna jika kita bisa mencocokan dengan kondisi jalan. Rambu-rambu dimana-mana, namun jika tidak cukup pandai membacanya, akan susah kita mengambil pelajaran. Maka dalam hal ini kita harus pandai-pandai dalam membedakan mana-mana sumber yang patut kita ambil pelajaran, sehingga kekeruhan pikiran tidak terjadi. Menyadari atau tidak Alloh kuasa atas semua ini. Baiklah saya batasi pada pengertian buku selain Al-Qur'an, buku ataupun wacana yang ada pada media cetak maupun elektronik (internet, dsb) dalam konteks Islam. Ada 3 kategori buku menurut tingkatan : Etika-Estetika-Logika 1. Etika, membahas prihal tata cara dan hukum (Syariat dan Fiqh) - Wilayah ini sudah banyak kita ketahui, bahkan sebagian besar kajian agama lebih banyak seputar ini. 2. Estetika, membahas seputar keindahan, ungkapan2 cinta, puisi, hikayat/khasidah, dsb. - Wilayah ini sangat exclusive, hanya orang-orang yang sudah merasakannya saja dapat mengerti. 3. Logika, membahas keterkaitan suatu masalah dari akar sampai pucuk dengan perumpamaan yang mudah dipahami; mengajarkan hikmah. - Wilayah ini, sedikit saja orang yang memiliki, karena diperoleh dari suatu perjalanan yang jauh/panjang. Kajian-kajianya dapat menjadi referensi semua kalangan. Adapun wilayah-wilayah khusus ia tidak sembarangan untuk menuangkan pengetahuannya. Menurut Ruang-Gerak-Waktu a. Ruang Ruang dalam kaitan ini adalah ruang pemahaman, dimana seseorang tidak lepas dari pengamatan apa yang dikaji dari permasalahan yang dihadapi. Permasalah-permasalahan yang ada disekelilingnya dari yang terkecil sampai pada wilayah yang lebih luas (alam semesta). Seorang dokter, arsitek, ahli goelogi, IT dihadapkan pada permasalahan yang berbeda. Disinilah wilayah yang saya maksud. b. Gerak Gerak pertumbuhan ilmu. Masing-masing berangkat dari ketidaktahuan "kenapa saya ada?", "buat apa saya hidup?" gerak ini tidak bisa ditolak, masing-masing tumbuh menjadi dewasa. Seseorang seharusnya dapat memahami arti gerak kehidupannya. "Kemana arah dan tujuan hidupnya?", "Apa yang selalu ia kejar, apa yang ia impikan, apa yang ia harapkan?". Gerak itu maya. Seseorang beranjak dewasa namun belum tentu pikiranya tambah dewasa pula. Seseorang meraih gelar doktor namun belum tentu titlenya sebanding dengan title yang Alloh berikan kepada hambaNYA yang sholeh. c. Waktu, memiliki kaitan yang sangat erat dengan sejarah yaitu suatu perjalanan dari ruang dan gerak menjadi suatu kesimpulan global; suatu keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan. Jika kita pandai mengambil pelajaran dimana alam semesta ini di didesain sedemikian sempurna; rumit namun memiliki prinsip yang sama. Namun tidak sedikit orang yang terjebak pada wilayah tertentu, karena salah mengambil pijakan. Kunci-kunci yang Alloh berikan tidak dimanfaatkan dengan baik. Alam-Kalam-Ilmu Kaitan ini saya ambil sebagai suatu kesimpulan saja, jika dikaitkan dengan lingkup diatas maka Alam adalah objek pengamatan. Kalam adalah jembatan untuk menerjemahkan Alam kedalam ilmu. Sebagaimana yang sedang kita bahas ini adalah Ilmu. Pentingnya ilmu sudah sama-sama kita ketahui dalam Al-Hadist dan dalam Al-Qur'an banyak sekali ; akal, penglihatan, mengerti, memahami, dsbnya. Adapun logika yang dirumuskan secara sistematis seperti halnya ilmu mantiq tidak mampu untuk menjawab. Kenapa? Kembali saya tekankan bahwa bukan luasnya ilmu yang kita kaji yang dapat mengangkat seseorang pada posisi yang tinggi. Namun seberapa ia mampu membawa ilmu tersebut menjadi suatu kemaslahatan bagi umat. Ilmu atau apapun yang kita peroleh dari apa yang kita usahakan tidak sebanding dengan apa yang diberikan sama Alloh. Jangan sampai ilmu itu membakar diri sendiri. Jangan sampai harta yang ia makan menjadi buah zaqum. Jangan sampai usia yang panjang menjadi sesuatu yang sia-sia dan senantiasa menjadi orang yang merugi. [62.5] Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang lalim. Jangan sampai kita seperti orang Yahudi, segala kitab dipelajari namun kitab yang diturunkan kepada mereka diperlihatkan sebagian dan yang banyak justru disembunyikan; menjadi lembaran yang bercerai berai. Maka wajar jika dikatakan sebagai keledai (dungu). Dungu menurut Alloh yaitu tidak memahami petunjukNYA tidak memperoleh cahayaNYA, walaupun kajiannya sangat luas. Adakah kita penasaran mengapa mereka begitu giat mencari kehidupan diluar bumi? Di swiss membuat gudang dimana segala benih disimpan dengan mengebor gunung es. Fakta apa yang mereka ketahui terutama 2012? Menarik sekali untuk kita kaji. Mereka adalah orang-orang yang sangat takut mati, walaupun harus bersekutu dengan Iblis tidak akan peduli. Naudhubillah. Mari kita tengok amalan kita untuk hari esok. Dengan segenap kemampuan yang ada. Galilah kesadaran jangan terus terlena, lalai dari Alloh. Sampai hidayah itu datang. Tiada daya upaya selain dari pertolongan Alloh. Segala puji bagiNYA tuhan semesta alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar semuanya sangat kami harapkan demi terwujudnya sebuah blog yang bisa bermanfaat bagi semuanya...kami berharap komentarnya dalam koridor yang Islami