Kamis, 19 November 2009

Brain Base Learning

Asli sudah lewat empat hari dari workshop Brain Base Learning saya masih harus mengumpulkan pemahaman untuk dituliskan kembali dalam note. Apakah BBL begitu sulit sehingga berat memahaminya..?? Bohong kalau saya katakan memahami BBL itu mudah, nyatanya untuk workshop kali ini saya harus konsentrasi ekstra. Tapi masalah terbesar sama sekali bukan karena sulit atau rumit. Ini lebih karena BBL begitu kompleks sekaligus luas, sehingga bisa ditilik dari beragam sudut pandang, yang semua bisa dijabarkan menjadi sebuah note. Maka kesulitan terbesarnya adalah menjabarkan dalam bentuk sederhana dan aplikatif .

Tapi biarlah saya coba menuliskannya bukan sebagai teori, note ini menggambarkan kesan yang saya peroleh setelah workshop BBL.

Alhamdulillah, saya ikut workshop BBL setelah terlebih dulu membaca dan memahami beberapa materi yang terkait seperti Multiple Intelegence , Quantum Learning , Quantum Ikhlas , Hypnoparenting dan ESQ . Semua bercerita tentang hebatnya seorang manusia jika mampu mengeksplorasi semua kekuatan yang terdapat dalam dirinya. Saat dia telah berhasil membuka akses langsung akal-hati-jiwa dan mengkoneksikannya dalam jalur pribadi bebas hambatan dengan The Source, Sang Maha Pencipta. Desain luar biasa produk pasti sukses anti gagal dariNya.

Apa hubungannya semua itu dengan BBL..?? Mba Yanti DP, Kepala Sekolah Bintang Bangsaku yang Agustus lalu menyabet predikat KepSek PAUD Teladan Nasional mengungkapkan, semua proses itu, ZMP, Ikhlas, God Spot, Quantum Learning, MI dan seterusnya, terjadi di otak, dan BBL menginklusi semua itu. Bahwa setiap yang memiliki jiwa, dia pasti punya potensi untuk dikembangkan, lepas dari gangguan, fisik, mental, emosi bahkan keterbatasan otak itu sendiri. Maka Sekolah Bintang Bangsaku menghadirkan Kelas Inklusi dengan BBL, untuk anak usia dini 3 – 6 tahun menembus semua keterbatasan yang ada .

Hal yang paling membekas di benak saya, bahkan nyaris membuat saya menitikkan air mata haru adalah slide tentang kegiatan kelas di mana anak yang lebih normal menjadi shadow teacher untuk teman-temanya yang kurang beruntung. Betapa BBL mampu melejitkan potensi tiap anak normal mulai umur 3 tahun hingga mereka dapat menjadi tangan kanan gurunya bertanggung jawab mengawal satu orang ABK dalam sebuah kegiatan outing. Tak heran ada sebuah kelas inklusi di Sekolah Bintang Bangsaku yang memiliki 8 murid ditangani hanya 1 orang guru, padahal ada 4 anak ABK di kelas itu. Bagaimana mungkin..?? Jelas mungkin karena di kelas itu juga ada 4 shadow teacher. Allahu Akbar..!!

So, the biggest question is… seperti apa sih bentuk dan aplikasi Brain Base Learning hingga bisa memberi hasil yang sedahsyat itu. Anak 3 tahun yang biasanya belum mandiri, jadi mampu menjadi seorang shadow teacher untuk seorang ABK. Bayangkan jika kita lewat pendidikan di rumah mampu memberi pendekatan BBL pada anak-anak kita yang rata-rata dalam kondisi normal, bukankah hasilnya akan sangat menjanjikan. Insya Allah satu generasi yang sangat solid dan unggul, kelak juga mampu menciptakan masyarakat inklusi yang membawa better world and brighter future.

Mba Yanti DP, dengan gamblang membuka rahasia BBL lewat gambar berikut…



Dalam gambar ini termuat modalitas belajar yang ada di setiap otak manusia. Betapa otak bekerja sesuai dengan kebutuhan jiwa seorang manusia, di mana semua motivasi untuk maju jadi lebih baik dapat dibangkitkan. Asalkan sentralnya sudah diaktifkan secara spritual dan emosional .

Btw, Mba Yanti DP menambahkan tentang soul/ruh/nur sendiri hanya Allah yang tahu di mana letaknya, kita hanya bisa "berkomunikasi" dengannya. Komunikasi yang otomatis dapat terjadi jika kita benar-benar merasa "berkomunikasi" dengan-Nya yaitu saat kita benar-benar berusaha "membaca” tanda-tanda yang diberikan oleh-Nya ...

Setiap lapisannya adalah ‘gerbang’ untuk memasukkan informasi baik berupa data maupun kegiatan apapun ke dalam otak. Terdapat di dalamnya modalitas belajar dan pendekatan Multiple Intelegence . Lebih dari itu BBL juga memperhatikan karakter tiap individu , juga cara berpikirnya . Keseluruhan kerja otak dapat dilihat dari body movement dan behavior setiap individu.

Dalam Quantum Learning dikatakan semua orang punya kemampuan belajar dengan sangat cepat asalkan teaching style = learning style. Maka seorang guru yang mengajar dengan pendekatan BBL, harus berusaha menangkap informasi cara kerja otak para siswanya dan membuat Teaching Plan yang paling sesuai untuk kelasnya dengan memanfaatkan Reticular Activating System .

Dalam BBL dikatakan gerbang tol masuknya informasi ada di Reticular Activating System, yaitu pusat ketertarikan/perhatian dan motivasi yang menghubungkan modalitas belajar seorang peserta didik dengan ‘soul’nya. Artinya guru tersebut harus membuat teaching plan yang mampu menarik keluar soul setiap siswa melalui kegiatan belajar yang dapat mengaktivasi semua modalitas otaknya.
Sepanjang hidup manusia lebar atau sempitnya masing-masing gerbang sangat berfluktuatif sehingga sebagai guru/orang tua kita harus benar-benar jeli dan berusaha memanfaatkan masing-masing gerbang secara maksimal, bukannya mengkotak-kotakkan kemampuan atau karakteristik individu. Misalnya saat kita meyakini anak/ siswa memiliki modalitas belajar visual atau yang ain maka tugas kita bukan hanya menyesuaikan teaching style dengan modalitas learning anak, tapi juga berusaha meningkatkan kemampuan anak lewat stimulasi modalitas yang lain. Karena sejatinya otak manusia yang begitu ajaib mampu meningkatkan kualitas kerja secara nyata asalkan rangsang yang diterima tepat, sehingga otak teraktivasi optimal.


Pasti akan timbul ungkapan susah banget untuk menerapkan BBL ini… Tentu saja bukan hal yang sederhana, para guru/ortu dituntut untuk mengaktivasi seluruh kemampuan otaknya sendiri guna mampu menciptakan teaching plan yang menggunakan BBL.

Istilah Mba Yanti DP, seorang pendidik harus sudah menyelesaikan lingkaran Brain Basenya sendiri untuk mampu membuka komunikasi dengan Brain Base siswanya. Dalam BBL setiap Guru perlu melandasi modalitas mengajarnya dengan proses pemahaman ke dalam dirinya. Untuk mampu berkomunikasi menggunakan bain base, maka guru/ortu perlu memahami kebutuhan dasar/emosi setiap individu yang berhubungan dengan otaknya.



Ada tujuh lapis kebutuhan dasar/emosi yang terdapat dalam diri setiap manusia terkait dengan kemampuan bekerja otak. Namun untuk mengisi bejana otak siswa setidaknya terpenuhi kebutuhan di lapisan 1 2 dan 3 di sekolah maupun di rumah.

1. Safety : Perasaan aman – timbul dari tercukupinya kebutuhan primer setiap manusia, sandang, pangan, papan dan jauh dari bahaya yang mengancam dirinya.
2. Love and sense of belonging : Rasa Dicintai, memiliki dan dimiliki – seseorang harus merasa disayang , juga merasa menjadi bagian utuh dalam kelompok. Tidak dibedakan atau dibandingkan dengan individu lain.
3. Self Esteem : Harga diri - Self respect/pride : Seseorang yang memiliki rasa respek terhadap dirinya, akan lebih mampu mengembangkan setiap potensinya. Penting untuk menghargai setiap anak/siswa apa adanya, dengan keyakinan setiap manusia diberiNya kelebihan masing-masing dan lewat kelebihan itu setiap orang akan mampu bermanfaat bagi dirinya maupun lingkungan sekitarnya. Setiap guru/ortu harus memberikan stimulasi yang tepat hingga stiap individu terpacu untuk mengeluarkan the best of themselves.

Lapisan selanjutnya mungkin harus dikupas lewat workshop/ seminar lain tentang motivasi dan konsep diri…

Mba Yanti mereview sedikit, bahwa kebutuhan dasar itu menurut teori Maslow walaupun tidak persis harus dilewati/dipenuhi bertahap. Banyak dari kita yang pada saat masa tumbuh kembang merasa kurang/belum terpenuhi kebutuhannya, misal orang tua kita terlalu sibuk sehingga kurang memberi kasih sayang yang dapat menghadirkan rasa aman di diri kita waktu itu, sehingga ada satu bagian jiwa kita yang masih ‘bolong’. Akibatnya saat kita jadi orang tua kita merasa punya ‘hutang’ dan berusaha melunasinya lewat anak-anak kita.

Ada orang tua yang dulu sering dipukul, merasa perlu memukul anaknya, atau sebaliknya orang tua itu jadi merasa perlu membanjiri anaknya dengan ungkapan kasih sayang yang tidak mendidik. Atau ada orang tua yang dulu kekurangan materi sehingga saat punya anak dalam keadaan berkecukupan ia berusaha membanjiri anaknya dengan materi dengan cara yang salah.
Sepanjang hidup ‘hutang’ itu selalu ada dan itu yang membuat kita berbeda satu sama lainnya. Orang yang bijak perlu menyadari keberadaan ‘hutang’ itu dan ikhlas berusaha untuk tidak mengalihkan pelunasan ‘hutang’ ke anak-anak kita atau ke orang lain.



Smart Parents, mari kita coba telaah seperti apa modalitas kerja otak anak-anak kita. Jika melalui BBL, seorang ABK penderita Cereberal Palsy <> jadi mampu berjalan dan mengikuti kegiatan outbond dipandu shadow teacher kecilnya, maka jika kita mau membawa BBL ke rumah, tentu anak-anak kita akan mampu melejitkan potensinya.

BBL bukan barang mewah, tidak juga membutuhkan fasilitas canggih. Akal, hati nurani dan jiwa yang bersih adalah kuncinya. Berusaha membuat learning plan dengan the best process di rumah/sekolah adalah actionnya. Ingat memberi kegiatan yang mengakomodasi learning style mutlak diperlukan. Tanpa melupakan stimulasi untuk modalitas yang lain.

Contoh, saat kita di rumah membacakan buku tentang wajah maka biarkan visual anak menikmati gambar wajah yang kita tunjukkan di buku, beri auditory anak kita suara jernih dan intonasi yang sesuai dengan dialog dan beri kinestetiknya play doh untuk bermain membentuk wajah pada waktu yang bersamaan. Sehingga semua bagian otaknya mendapat stimulasi optimal.

Demikian sebagian kecil informasi yang dapat saya sampaikan dari hasil workshop BBL di Sekolah Bintang Bangsaku. Sebenarnya masih ada info tentang Pemanfaatan Peta Koneksi dan Siklus Otak dalam pembuatan Teaching Plan. Mungkin lain waktu disambung lagi.

Get Smarter Everyday…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar semuanya sangat kami harapkan demi terwujudnya sebuah blog yang bisa bermanfaat bagi semuanya...kami berharap komentarnya dalam koridor yang Islami