Kamis, 19 November 2009

Mendidik Anak untuk Mandiri

“To dream anything that you want to dream, that is the beauty of a human mind..To do anything that you want to do, that is the strength of a human will..To trust yourself and test your limit, that is the courage to succeed” (from Breaking the Limits)

Saya memilih untuk berkarier sebagai full time mother demi mengasuh dan mendidik keempat anak saya Netta 9.5 th; Fella 5 th; Faza 4 th dan Ghazi 2.5 th. Menjadikan mereka manusia mandiri adalah salah satu tujuan hidup saya. Selalu saya tekankan pada mereka, “Jadilah manusia bermanfaat yang banyak membantu orang lain, caranya adalah dengan terlebih dulu mampu mengurus diri sendiri.”

Pada dasarnya mendidik anak-anak yang mandiri adalah memberi mereka kesempatan seluas dan sedini mungkin untuk bermimpi, berbuat dan menembus batasan diri mereka. Agar mampu memenuhi semua kebutuhan mereka sendiri tanpa bantuan. Mulai kebutuhan bergerak, meraih, tengkurap, merangkak, duduk, memanjat, berjalan dan berlari – hingga kebutuhan berkomunikasi, makan dan minum, mandi dan berpakaian, bermain dan berangkat ke sekolah – harus dapat segera mereka kuasai dan lakukan sendiri tanpa bantuan. Terakhir mungkin yang terpenting adalah secepatnya mengajari mereka cara berdiskusi, berpikir, memilih dan mengambil keputusan sendiri, agar mereka segera mengenali hal penting yang diperlukan. Kenali kebutuhan mereka sejak bayi dan ajari mereka bagaimana menyampaikan kebutuhan tersebut. Dengan begitu mereka tidak perlu menangis hanya untuk minta sesuatu.

Syarat anak mampu mandiri, orang tua harus beri bimbingan dan latihan sesering mungkin untuk semua aktivitas yang harus dilakukan sendiri mulai usia dini. Misal anak 1 tahun bisa makan sendiri, 2 tahun tidak lagi digendong, 3 tahun berpakaian sendiri, 4 tahun membersihkan diri sendiri, dan seterusnya. Kesempatan bergerak dengan bebas juga mutlak diperlukan. Mereka butuh berlari kencang, melompat dan memanjat. Hal yang sering dilarang orang tua. Alasan dan kekuatiran yang tidak rasional dapat menciutkan keberanian yang mereka butuhkan untuk mandiri. Bekali mereka kepercayaan diri untuk bergerak bebas dan melakukan pemenuhan kebutuhan sendiri.

Hasilnya, Alhamdulillah Netta sudah mampu mengurus semua kebutuhannya sendiri dan mengurus adik-adiknya plus memasak dan mencuci. Fella sudah mampu bersiap sekolah tanpa dibantu mulai mandi sampai selesai berpakaian, Ia juga mampu memandikan dan menyiapkan makan 2 adiknya. Faza mampu berpakaian dan menyiapkan makanan dan susunya sendiri. Ghazi mampu makan sendiri tanpa berantakan dan bersisa. Untuk kemampuan motorik kasar Ghazi yang paling kecil sudah mampu berlari, memanjat tangga bambu dan pagar rumah, keterampilan yang didapat dari kakak-kakaknya. Ghazi juga mau berjalan sendiri lebih 1 km dari rumah ke jalan raya. Repot kalau harus mengejar ketiga balita ini saat diajak keluar.

Semua itu didukung komitmen saya tidak menyerahkan urusan pengasuhan mereka pada orang lain selama 2 tahun masa menyusui. Saya masih memakai jasa pembantu untuk urusan rumah, sudah selesai pulang. Berdasar pengalaman kalau ada pembantu menginap anak-anak jadi suka menyuruh, dan kakak tidak mau perduli adik.

Namanya anak tentu saja tidak bisa diharuskan 100% mandiri, tetapi menyadari sepenuhnya apa yang mampu dilakukan sendiri adalah bekal utama anak-anak kita untuk mandiri dan bertanggung jawab akan kebutuhannya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar semuanya sangat kami harapkan demi terwujudnya sebuah blog yang bisa bermanfaat bagi semuanya...kami berharap komentarnya dalam koridor yang Islami